Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tren Slow Travel, Bhutan Jadi Pilihan Wisata Sarat Budaya dan Alam

📅 Senin, 13 Apr 2026, 21:57 WIB | Oleh:
Tren Slow Travel, Bhutan Jadi Pilihan Wisata Sarat Budaya dan Alam Doc: Bhutan Tourism Board
Ket. Festival Thimphu Drubchen. Bhutan menawarkan pengalaman slow travel dengan perpaduan alam, budaya, dan festival sepanjang tahun, didukung konsep pariwisata berkelanjutan high-value low-volume.

JAKARTA — Tren perjalanan slow travel dan wisata untuk pemulihan diri (healing) kian diminati di tengah tekanan kehidupan modern. Wisatawan kini mencari destinasi yang menawarkan ketenangan, interaksi budaya yang autentik, serta kedekatan dengan alam.

Bhutan menjadi salah satu destinasi yang menawarkan pengalaman tersebut, dengan perpaduan harmoni antara budaya, alam, dan spiritualitas. Dikenal sebagai Negeri Naga Guntur, kerajaan di kawasan Himalaya ini menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda di setiap musim.

Mulai dari pegunungan bersalju pada musim dingin, mekarnya bunga rhododendron pada musim semi, lembah hijau di musim panas, hingga festival budaya yang semarak pada musim gugur, Bhutan menawarkan perjalanan yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga reflektif.

Musim dingin (Desember–Februari) menghadirkan lanskap bersalju dan suasana tenang di lembah-lembah terpencil. Sementara musim semi (Maret–Mei) menjadi waktu terbaik untuk menikmati bunga bermekaran seperti rhododendron dan anggrek, sekaligus mengikuti berbagai festival budaya.

Memasuki musim panas (Juni–Agustus), lanskap Bhutan berubah menjadi hijau subur dengan sungai yang jernih, cocok untuk aktivitas seperti trekking, arung jeram, dan memancing. Adapun musim gugur (September–November) menjadi puncak perayaan budaya dengan festival keagamaan yang menampilkan tarian topeng sakral serta ritual Buddha.

Direktur Departemen Pariwisata Bhutan, Damcho Rinzin, menyebut Bhutan bukan sekadar destinasi wisata. Baginya negeri ini adalah perjalanan melintasi waktu, budaya, dan alam.

“Bhutan adalah perjalanan melintasi waktu, budaya, dan alam. Setiap musim menghadirkan pengalaman yang menginspirasi dan menyentuh jiwa,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (13/4).

Festival Budaya dan Alam

Departemen Pariwisata Bhutan juga merilis sejumlah festival yang dapat menjadi daya tarik wisata dalam beberapa bulan ke depan. Festival dimaksud antara lain Rhododendron Week di Trashigang, Haa Spring Festival di Haa Valley, serta Rhododendron Festival di Royal Botanical Park, Lamperi, yang menonjolkan kekayaan flora dan budaya lokal.

Selain itu, terdapat pula Great Yeti Quest di Sakteng yang menggabungkan petualangan dan legenda lokal, serta Matsutake Festival di Genekha dan Ura yang menampilkan tradisi kuliner berbasis jamur khas Bhutan.

Pada musim gugur, sejumlah festival besar digelar, seperti Thimphu Drubchen dan Thimphu Tshechu yang dikenal sebagai salah satu festival keagamaan terbesar di Bhutan. Festival ini menampilkan tarian topeng sakral (Cham), ritual Buddha, serta dihadiri ribuan warga dengan busana tradisional.

Festival lainnya, Bathing Carnival di Pemagatshel, menawarkan pengalaman relaksasi melalui tradisi pemandian herbal dan hot-stone yang menjadi bagian dari praktik kesehatan tradisional Bhutan.

Pariwisata Berkelanjutan

Bhutan menerapkan pendekatan pariwisata high-value, low-volume, yakni membatasi jumlah kunjungan wisatawan untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Melalui konsep ini, setiap perjalanan diharapkan memberikan pengalaman yang lebih bermakna sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Luar Negeri
Pentagon Tutup Mulut soal E...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.