Lonjakan Harga Energi Picu Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik Melambat
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kami menilai Indonesia relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak, misalnya, lebih rendah dibandingkan negara lain,” kata Mattoo.
Laporan juga mencatat impor bersih minyak dan gas Indonesia pada 2024 hanya sekitar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB), sementara Thailand mencapai 7 persen, Filipina 3 persen, dan Vietnam 2 persen.
Meski demikian, guncangan global diyakini tetap berdampak pada Indonesia, terutama melalui kenaikan harga minyak yang menambah beban fiskal akibat subsidi dan kompensasi energi.
Tekanan inflasi dinilai berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak, lonjakan harga pupuk yang mendorong biaya pangan, serta kenaikan harga semikonduktor yang berimbas pada keseluruhan rantai nilai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mattoo menambahkan, meningkatnya sentimen risiko global juga berpotensi menekan investasi dan konsumsi. Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan kembali pulih dengan pertumbuhan mencapai 5,2 persen pada 2027.
Fase Ketidakpastian
Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menilai, proyeksi Bank Dunia tentang perlambatan ekonomi Asia Timur dan Pasifik pada 2026 bukan sekadar angka teknokratis, melainkan sinyal kuat bahwa struktur ekonomi global sudah memasuki fase ketidakpastian baru di mana guncangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan disrupsi teknologi saling terkait.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kalau dilihat asumsi makro APBN 2026 di mana data menunjukkan pertumbuhan ekonomi (PE) Indonesia berada di kisaran ±5,0–5,12 persen (2023–2025). “Ini terlihat stabil, bahkan lebih tinggi dari proyeksi kawasan 4,2 persen. Namun, jika dilihat lebih dalam tidak ada akselerasi signifikan yaitu stagnan di 5 persen. Ini mengindikasikan low equilibrium growth di mana ada pertumbuhan, tapi tidak melonjak,” jelas Badiul.
Indonesia ungkap Badiul memang relatif tahan guncangan, tetapi belum mampu melompat kelas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, di antaranya faktor konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi, sekaligus menunjukkan bahwa kebergantungan ekonomi kawasan terhadap energi fosil masih sangat tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!