Data Satelit Menunjukkan Bumi Semakin Terang di Malam Hari
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiWASHINGTON DC – Pengamatan satelit harian menunjukkan pencahayaan buatan pada malam hari terus meningkat secara global, namun dengan pola yang dinamis dan tidak merata antarwilayah.
Dikutip dari The Straits Times pada Kamis (9/4) , studi terbaru mencatat peningkatan bersih kecerahan malam hari sebesar 16 persen dalam periode 2014 hingga 2022. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa tren tersebut bukanlah peningkatan yang stabil, melainkan hasil dari perubahan yang kompleks berupa lonjakan dan penurunan cahaya di berbagai wilayah dunia.
Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara dengan tingkat luminositas tertinggi pada 2022, diikuti oleh Tiongkok, India, Kanada, dan Brasil. Peningkatan cahaya malam hari secara umum didorong oleh urbanisasi yang pesat, ekspansi infrastruktur, serta meluasnya elektrifikasi di kawasan pedesaan.
Namun, fenomena peredupan juga terjadi di sejumlah wilayah. Penurunan cahaya ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni gangguan mendadak seperti konflik bersenjata, bencana alam, dan kegagalan jaringan listrik, serta kebijakan jangka panjang seperti efisiensi energi, penggunaan lampu hemat energi, dan pengendalian polusi cahaya.
Penulis utama studi, Zhe Zhu, menyebut selama ini terdapat anggapan bahwa bumi akan terus semakin terang seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Selama beberapa dekade, kami memiliki pandangan yang disederhanakan bahwa Bumi pada malam hari semakin terang seiring dengan pertumbuhan populasi dan perekonomian manusia,” ujarnya.
Namun, menurutnya, kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks dan dinamis.
“Kami menemukan bahwa pemandangan malam bumi sebenarnya sangat fluktuatif. Jejak pencahayaan planet ini terus berkembang, berkontraksi, dan bergeser,” kata Zhu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian ini menggunakan lebih dari satu juta citra harian yang diperoleh dari satelit observasi Bumi milik pemerintah AS dan diproses oleh Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA). Metode ini memberikan gambaran yang lebih detail dibandingkan studi sebelumnya yang umumnya hanya menggunakan data bulanan atau tahunan.
Meningkat Tajam
Lonjakan pencahayaan paling signifikan terjadi di negara-negara berkembang, khususnya di Afrika Sub-Sahara dan Asia Tenggara. Negara seperti Somalia, Burundi, dan Kamboja mencatat peningkatan tajam, yang mencerminkan perluasan akses listrik dan pembangunan infrastruktur energi.
“Ini bukan hanya urbanisasi. Ini adalah perluasan akses energi secara besar-besaran,” ujar Zhu.
Sebaliknya, penurunan drastis cahaya terlihat di negara yang dilanda konflik dan krisis, seperti Lebanon, Ukraina, Yaman, dan Afghanistan. Penurunan juga terjadi di Haiti dan Venezuela yang mengalami krisis ekonomi dan ketidakstabilan pasokan energi.
“Di Ukraina, kami mengamati penurunan cahaya yang tajam dan berkelanjutan yang selaras dengan eskalasi konflik pada Februari 2022,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!