Tren Hidup Sehat Makin Populer, Ahli Ingatkan Risiko Infodemic dan Diet Instan
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 18:07 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Tren gaya hidup sehat kian populer di kalangan pekerja urban, mulai dari diet viral hingga berbagai tantangan olahraga di media sosial. Namun, di balik popularitas tersebut, para ahli mengingatkan adanya risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian.
Fenomena ini tidak lepas dari maraknya infodemic, yakni banjir informasi yang berlebihan, termasuk yang tidak akurat atau menyesatkan, baik di ruang digital maupun lingkungan sehari-hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti bahwa penyebaran informasi kesehatan yang tidak valid dapat memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat. Akibatnya, tidak sedikit pekerja dengan mobilitas tinggi terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, dalam momentum World Health Day bertema “Together for Health, Stand with Science”, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing guna mendorong penerapan gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis sains.
“Di tengah rutinitas kerja yang padat, kesehatan sering kali menjadi prioritas terakhir atau baru diperhatikan saat muncul tren. Kami ingin mengubah cara pandang itu, bahwa hidup sehat harus dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten setiap hari. Ini bukan tren sesaat, melainkan investasi jangka panjang,” ujar Nina Hatumena, Chief People & Culture Allianz Life Indonesia.
Dalam inisiatif ini, Allianz menghadirkan Melanie Putria, publik figur sekaligus wellness enthusiast, serta Rinta Agustiani Dwiputra, ahli gizi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melanie menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik harian. Menurut dia, banyak orang merasa sudah cukup aktif hanya dengan melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan atau beres-beres rumah. Padahal, aktivitas tersebut termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yang belum dapat menggantikan olahraga terstruktur.
“Berjalan ke stasiun, berdiri di transportasi umum, atau naik tangga memang bermanfaat, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan olahraga. Dibutuhkan aktivitas fisik yang terukur,” ujarnya.
Ia menekankan empat pilar utama gaya hidup sehat, yakni olahraga, nutrisi, istirahat dan pemulihan, serta manajemen stres.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Rinta menilai tantangan utama saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kesalahan dalam memilah informasi yang tepat. Banyak masyarakat, kata dia, terjebak pada tren atau solusi instan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.
“Keinginan untuk hidup sehat sering tidak diiringi pemahaman yang benar. Akibatnya, hasil yang didapat tidak bertahan lama, bahkan bisa berdampak sebaliknya,” jelasnya.
Ia mencontohkan tren diet ekstrem yang dapat mengganggu metabolisme tubuh, seperti efek yoyo, yakni penurunan berat badan secara drastis yang diikuti kenaikan kembali dalam waktu singkat.
Dalam sesi “Trend vs Truth”, sejumlah tren gaya hidup sehat yang populer turut dibahas, di antaranya:
- Very low-calorie diet, yang dapat menurunkan berat badan dengan cepat, namun berisiko mengurangi massa otot dan memperlambat metabolisme.
- Diet keto, yang efektif dalam kondisi tertentu, tetapi berpotensi meningkatkan risiko gangguan jantung jika tidak dilakukan dengan pengawasan.
- Intermittent fasting, yang dapat bermanfaat jika diimbangi asupan nutrisi seimbang.
- Juice fasting, yang perlu dilakukan dengan durasi dan komposisi tepat agar tetap aman.
Rinta menegaskan bahwa pendekatan sederhana justru lebih efektif bagi pekerja urban, selama dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang disarankan antara lain menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, tidur berkualitas, mengambil jeda singkat setiap 90 menit, serta melakukan power nap selama 15–20 menit untuk memulihkan energi.
Lebih jauh, pendekatan kesehatan berbasis sains juga mencakup upaya pencegahan, seperti imunisasi. Data WHO menunjukkan bahwa imunisasi telah menyelamatkan sekitar 154 juta jiwa dalam 50 tahun terakhir, atau setara enam nyawa setiap menit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!