Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Revitalisasi Terintegrasi di HSU: Menghidupkan Itik Alabio dan Kerbau Rawa untuk Ekonomi Lokal

📅 Selasa, 07 Apr 2026, 18:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Revitalisasi Terintegrasi di HSU: Menghidupkan Itik Alabio dan Kerbau Rawa untuk Ekonomi Lokal Doc: ANTARA/Herry Murdy Hermawan
Ket. Seorang pembudidaya memberi makan itik Alabio.

HULU SUNGAI UTARA – Sistem pertanian terintegrasi merupakan pendekatan yang menggabungkan berbagai komponen produksi, mulai dari tanaman, peternakan, hingga perikanan, dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Model ini bertujuan meningkatkan efisiensi sumber daya, memperkecil limbah, dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Misalnya, limbah ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman, sementara tanaman menyediakan pakan atau naungan bagi hewan.

Dari perspektif ekonomi, sistem ini memungkinkan diversifikasi pendapatan petani, mengurangi risiko gagal panen tunggal, dan meningkatkan ketahanan pangan lokal.

Namun, implementasinya menuntut koordinasi yang baik, pengetahuan teknis lintas subsektor, serta manajemen yang efektif agar interaksi antarkomponen tidak menimbulkan konflik atau kerugian.

Dengan desain yang tepat, pertanian terintegrasi dapat menjadi model berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip ekonomi hijau dan ketahanan pangan nasional.

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan kini fokus pada revitalisasi itik alabio serta konservasi kerbau rawa berbasis potensi lokal secara terintegrasi di lahan rawa untuk menjaga populasi dan meningkatkan hasil bagi kesejahteraan masyarakat.

"Kami ingin sistem pertanian terintegrasi (sitani) benar-benar terwujud dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi seluruh warga HSU," kata Wakil Bupati HSU Hero Setiawan di Amuntai, Senin (7/4).

Hero mengatakan revitalisasi itik alabio dan konservasi kerbau rawa berfokus pada perlindungan plasma nutfah melalui penguatan kawasan konservasi perairan.

Salah satunya caranya melalui pemeliharaan kerbau rawa dan pengembangbiakan itik alabio secara terintegrasi di lahan rawa.

Hero menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Pertanian Terintegrasi di Kota Amuntai yang melibatkan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), hingga peneliti internasional asal Wageningen University & Research Belanda Siep Missaar.

Dia menyatakan, kolaborasi ini strategis untuk mewujudkan visi HSU sebagai pusat agro-minapolitan unggul.

"Sinergi ini mempertegas arah pembangunan kita dalam mengembangkan sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Hero.

Sementara pendamping akademik dari Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian ULM Prof Ika Sumantri berperan memastikan penelitian standar internasional yang dilakukan Siep Missaar relevan dengan kondisi lokal.

Penelitian tersebut fokus mengkaji peran penting sektor peternakan dalam sistem pertanian terpadu di wilayah rawa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

39 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.