Industri Plastik Putar Haluan! Diversifikasi Bahan Baku Jadi Kunci Bertahan
📅 Senin, 06 Apr 2026, 22:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Diversifikasi sumber bahan baku plastik menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku berbasis fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia.
Ketika harga minyak naik atau pasokan terganggu, industri plastik langsung terdampak melalui kenaikan biaya produksi dan tekanan pada margin usaha.
Secara analitis, diversifikasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan baku alternatif seperti plastik daur ulang, bio-based polymers, maupun substitusi material tertentu.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan ketahanan rantai pasok, tetapi juga sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan.
Namun, implementasinya memerlukan investasi teknologi, penguatan ekosistem daur ulang, serta dukungan regulasi yang konsisten.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanpa itu, diversifikasi berisiko berjalan lambat dan belum mampu secara signifikan mengurangi ketergantungan pada bahan baku konvensional.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengupayakan diversifikasi sumber bahan baku plastik, seperti nafta guna menjaga keberlanjutan produksi di tengah tekanan global.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono dalam keterangannya yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Senin (6/4), mengungkapkan pelaku usaha terus mencermati arah pasar, terutama terkait pasokan bahan baku utama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, struktur bahan baku sektor ini yang masih bergantung pada impor memperbesar kerentanan terhadap gejolak eksternal.
"Untuk nafta kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100 persen impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE (Polyethylene), PP (Polypropylene), PET (Polyethylene Terephthalate), PS (Polystyrene), dan PVC (Polyvinyl Chloride) dan lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50 persen masih impor," katanya.
Menurutnya, gangguan distribusi sedikit saja dapat langsung memengaruhi rantai produksi. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pelaku industri mulai membuka opsi penggunaan bahan baku alternatif.
"Nol persen bea masuk LPG sebagai bahan baku alternatif, pasokan gas," kata Fajar.
Langkah diversifikasi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, ketersediaan energi bahkan disebutnya lebih mendesak dibandingkan relaksasi kebijakan fiskal.
Di sisi lain, situasi global yang tidak menentu juga mendorong banyak negara memperketat pengamanan pasokan. Menurut dia, lonjakan permintaan di sejumlah kawasan menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan baku di pasar internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!