Mangrove Desa Sugian Jadi Perhatian, Warga Lombok Timur Diminta Ikut Menjaga
📅 Minggu, 05 Apr 2026, 17:40 WIB | Oleh: Tim PenulisLOMBOK TIMUR – Menjaga tanaman mangrove itu sebenarnya nggak seribet yang dibayangkan, tapi dampaknya besar banget—baik untuk lingkungan maupun kehidupan di sekitarnya. Di kawasan pesisir, hutan mangrove sering jadi “penjaga alami” yang melindungi daratan dari abrasi, gelombang besar, sampai intrusi air laut.
Mangrove juga punya peran penting sebagai rumah bagi berbagai biota laut. Ikan, kepiting, hingga burung-burung pesisir banyak yang bergantung pada ekosistem ini untuk berkembang biak. Jadi, kalau mangrove rusak, rantai kehidupan di sekitarnya ikut terdampak.
Menjaganya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, tidak menebang sembarangan, ikut kegiatan penanaman mangrove, atau sekadar tidak membuang sampah di area pesisir.
Sekarang juga mulai banyak komunitas yang aktif mengajak masyarakat untuk lebih peduli, bahkan menjadikan penanaman mangrove sebagai bagian dari kegiatan wisata edukasi.
Yang menarik, kesadaran ini pelan-pelan tumbuh. Banyak orang mulai melihat mangrove bukan lagi sekadar “pohon di pinggir laut”, tapi sebagai investasi jangka panjang untuk lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain melindungi garis pantai, mangrove juga membantu menyerap karbon, yang artinya ikut berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim.
Intinya, menjaga mangrove itu soal kebiasaan dan kepedulian. Nggak harus langsung besar, tapi kalau dilakukan bareng-bareng dan konsisten, dampaknya bisa terasa jauh ke depan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengingatkan warga untuk tetap menjaga tanaman pohon mangrove yang telah tumbuh di Desa Sugian Kecamatan Sambelia, guna menjaga ekosistem kawasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Rimbunnya hutan mangrove sebagai refleksi kehidupan," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur Muhammad Juaini Taofik dalam peluncuran Ekowisata Mangrove di Taman Wisata Alam Keramat Suci Ekowisata Desa Sugian di Lombok Timur, Minggu (.
Ia mengatakan, rimbunnya mangrove mengajarkan kesederhanaan membawa pesan bahwa cinta yang tulus adalah tentang menjaga dan melindungi, bukan sekadar memiliki.
Ini juga disebutnya sebagai sebuah filosofi yang menjadi fondasi kuat dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan bebas dari kekerasan.
”Dibalik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi bukan memiliki," katanya.
Ia mengatakan bahwa prinsip utama dalam menjaga alam, halnya membina keluarga adalah kesadaran untuk melindungi, bukan sekadar memiliki.
Dengan semangat perlindungan tersebut, keberlanjutan ekosistem akan terjaga, sebagaimana rumah tangga yang harmonis akan jauh dari KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena landasannya adalah saling menjaga satu sama lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!