Ketua Federasi Sepak Bola Italia Mundur Usai Gli Azzurri Gagal ke Piala Dunia
📅 Jumat, 03 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
MILAN, ITALIA — Ketua Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, resmi mengundurkan diri pada hari Kamis (2/4) waktu setempat setelah tim nasional Italia kembali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Gravina mengumumkan keputusannya usai rapat di markas FIGC di Roma, sehari setelah Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka mendesaknya untuk mundur.
Kegagalan terbaru Italia terjadi pada laga playoff, Selasa lalu, ketika mereka kalah adu penalti dari Bosnia and Herzegovina. Hasil tersebut memastikan Gli Azzurri absen dari putaran final Piala Dunia yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Tekanan besar akibat hasil buruk itu memaksa Gravina, 72 tahun, mempercepat keputusan yang semula direncanakan diumumkan dalam rapat dewan FIGC pekan depan. Dalam pernyataannya, FIGC juga mengonfirmasi bahwa pemilihan presiden baru akan digelar pada tanggal 22 Juni mendatang.
Salah satu nama yang mencuat sebagai kandidat adalah Giovanni Malago, mantan ketua Komite Olimpiade Italia sekaligus pimpinan panitia Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengunduran diri Gravina juga berpotensi berdampak pada posisi pelatih timnas Italia, Gennaro Gattuso. Pasalnya, Gravina sebelumnya merupakan sosok yang meminta Gattuso bertahan hingga akhir kontraknya yang akan berakhir musim panas ini.
Abodi menegaskan bahwa sepak bola Italia membutuhkan perombakan total. “Sudah jelas bahwa sepak bola Italia perlu dibangun kembali dari nol, dan itu harus dimulai dari perubahan di level tertinggi FIGC,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Gravina mengkritik para politisi yang hanya menuntut pengunduran diri, sembari mengakui bahwa sepak bola Italia tengah berada dalam “krisis mendalam”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gravina menjabat sebagai presiden FIGC sejak Oktober 2018, menggantikan Carlo Tavecchio yang mundur setelah kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018.
Puncak keberhasilannya terjadi saat Italia menjuarai Piala Eropa 2020 di bawah asuhan Roberto Mancini. Kala itu, Italia menaklukkan Inggris di Wembley dan mencatatkan rekor 37 laga tak terkalahkan.
Namun, dua kegagalan lolos ke Piala Dunia serta performa mengecewakan dalam mempertahankan gelar Eropa membuat posisinya tak lagi dapat dipertahankan.
Krisis sepak bola Italia tak hanya terkait performa tim nasional. Klub-klub Serie A juga belum mampu menjuarai Liga Champions sejak 2010.
Di sisi lain, Italia juga menghadapi ancaman kehilangan status tuan rumah bersama Piala Eropa 2032 bersama Turki. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, bahkan mengkritik kondisi stadion di Italia yang dinilai belum layak. “Saya harap infrastrukturnya siap. Jika tidak, turnamen tidak akan digelar di Italia,” tegas Ceferin.
Menariknya, keterpurukan sepak bola Italia berbanding terbalik dengan prestasi cabang olahraga lain. Italia mencatat rekor 30 medali di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina, termasuk 10 emas, serta meraih 40 medali di Olimpiade Paris 2024.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!