Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Melemah 1,35% Sepanjang 2026

📅 Rabu, 18 Mar 2026, 07:45 WIB | Oleh:
Rupiah Melemah 1,35% Sepanjang 2026 Doc: istimewa

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 226 poin atau sekitar 1,35 persen sepanjang tahun berjalan hingga 17 Maret 2026 mencerminkan tekanan eksternal yang belum mereda, terutama akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Sentimen ini mendorong penguatan dollar AS sebagai aset aman, sehingga menekan mata uang nega­ra berkembang, termasuk rupiah. 

Menjelang libur panjang Lebaran, kondisi ini juga di­perkuat oleh kecenderungan pelaku pasar mengurangi eksposur risiko, yang membuat volatilitas meningkat dan rupiah sulit mendapatkan momentum penguatan dalam jangka pendek.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Ja­karta, Selasa (17/3), bergerak datar 0 poin atau 0,00 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.997 rupiah per dollar AS atau melampuai asumsi di APBN 2026 sebesar 16.500 rupiah per dollar AS. Sebagai perbandingan, kurs rupiah, dalam perdagangan pada 30 Desember 2025 ditutup di le­vel 16.771 rupiah per dollar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong menilai kurs rupiah gagal mempertahankan pe­nguatan pasca pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) masih terkesan dovish. “Rupiah gagal mempertahankan penguatan terhadap dollar AS setelah Gubernur BI dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI masih terkesan dovish dengan mengatakan bahwa ruang pelonggaran kebijakan tetap terbuka,” ucapnya di Jakarta.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Ma­ret 2026 yang berlangsung dua hari hingga Selasa (17/3) ini, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen. Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 3,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 5,50 persen.

Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasar­an inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 per­sen.

Dalam RDG, Gubernur BI Perry Warjiyo tidak lagi me­nyinggung peluang untuk penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) seiring meningkatnya risiko global dan tekanan nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada pembukaan per­dagangan di Jakarta, Selasa (17/3) pagi, bergerak menguat 29 poin atau 0,17 persen dari penutupan sehari sebelum­nya menjadi 16.968 rupiah per dollar AS. Hal ini disebab­kan harga minyak mentah yang menurun di tengah harap­an Selat Hormuz kembali bisa dilewati.

“(Ada) harapan Selat Hormuz akan kembali bisa segera dilewati menyusul pernyataan Trump (Presiden AS Do­nald Trump) yang akan mengumumkan dalam waktu de­kat,” kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.