IHSG Hari Ini Menguat di Tengah 'Wait and See' Arah Suku Bunga Bank Sentral
📅 Selasa, 17 Mar 2026, 09:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (17/3) pagi bergerak menguat di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral, baik domestik maupun mancanegara.
IHSG dibuka menguat 52,32 poin atau 0,75 persen ke posisi 7.074,61. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 6,99 poin atau 0,98 persen ke posisi 720,72.
"Menjelang libur panjang, diperkirakan investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian yang masih tinggi. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.900-7.150," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari mancanegara, pelaku pasar menantikan keputusan bank sentral di berbagai negara pada pekan ini, termasuk bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, yang dijadwalkan rilis pada Rabu (18/03).
Kebijakan kali ini akan menjadi kesempatan pertama bagi para bank sentral untuk bereaksi terhadap eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran, yang telah memasuki pekan ketiga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, pergerakan harga minyak mentah global masih menjadi perhatian pelaku pasar, seiring ditutupnya Selat Hormuz yang menghambat aliran energi dan mengancam perekonomian dunia.
Meskipun AS telah berupaya meredakan kekhawatiran pasokan, termasuk melalui pelonggaran beberapa sanksi terhadap minyak Rusia, namun, harga minyak mentah terus meningkat.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump meminta beberapa negara untuk membantu AS membuka kembali Selat Hormuz, namun sebagian negara menunjukkan keengganan untuk memberikan bantuan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, Trump mengatakan rencana perjalanannya ke China pada akhir Maret 2026 dapat ditunda, karena AS berupaya menekan China untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi, potensi melebarnya defisit APBN, depresiasi Rupiah, serta potensi perlambatan ekonomi domestik, menjadi faktor negatif yang mempengaruhi pergerakan IHSG.
Presiden Prabowo kembali menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal, dengan menyatakan prinsip utama dalam pemerintahannya yaitu memastikan bangsa Indonesia hidup sesuai dengan kemampuan.
Presiden menekankan bahwa opsi melonggarkan defisit APBN adalah pilihan terakhir. Presiden menyatakan hanya akan mempertimbangkan untuk melebarkan batas defisit APBN maksimal 3 persen dari PDB jika Indonesia menghadapi situasi darurat yang luar biasa.
Di sisi lain, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.
Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan meningkat 10,1 persen (yoy) pada Februari 2026, dari sebelumnya 9,96 persen pada Januari 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!