Di Timur Indonesia, Maret Hadirkan Dua Perayaan: Sunyi Nyepi dan Takbir Lebaran
📅 Jumat, 13 Mar 2026, 11:07 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDi Mataram, masyarakat tidak hanya menghadapi kemungkinan berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri, tetapi juga dinamika sosial, seperti pawai ogoh-ogoh dan kegiatan takbiran. Kedua kegiatan itu sama-sama melibatkan mobilitas massa dan potensi keramaian.
Karena itu, imbauan agar takbiran lebih banyak dilakukan di masjid menjadi langkah penting. Selain menjaga kekhusyukan ibadah, kebijakan ini juga membantu meminimalkan potensi gesekan di ruang publik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa toleransi sering kali lahir dari kesediaan untuk menahan diri.
Toleransi bukan berarti mengurangi makna ibadah, melainkan menempatkan ibadah dalam konteks hidup bersama. Dalam masyarakat majemuk, ruang publik harus dikelola dengan kebijaksanaan agar semua kelompok merasa dihargai.
Tantangan terbesar tidak selalu datang dari perbedaan agama, melainkan dari kesalahpahaman, provokasi, atau informasi yang tidak utuh di media sosial. Dalam era digital, satu narasi yang keliru dapat memicu persepsi yang salah di tempat lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, literasi sosial dan komunikasi antarkomunitas menjadi faktor penting. Tokoh agama, pemuda, dan pemerintah daerah memiliki peran besar untuk memastikan masyarakat memahami bahwa penyesuaian tertentu bukanlah bentuk pembatasan ibadah, melainkan cara menjaga keharmonisan bersama.
Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga hasil dari sistem sosial yang bekerja dengan baik.
Peran negara dan aparat
Ketika dua momentum keagamaan besar bertemu, negara memiliki peran strategis dalam memastikan situasi tetap aman dan kondusif. Aparat keamanan tidak hanya bertugas menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi penopang stabilitas sosial.
Di Bali, ribuan personel kepolisian diterjunkan dalam operasi pengamanan menjelang Nyepi dan Idul Fitri. Pengamanan tidak hanya difokuskan pada tempat ibadah, tetapi juga pada objek vital, jalur transportasi, dan lokasi keramaian.
Langkah ini penting karena rangkaian kegiatan Nyepi sendiri melibatkan berbagai aktivitas publik, seperti Tawur Kesanga dan parade ogoh-ogoh. Sementara menjelang Lebaran, mobilitas masyarakat meningkat seiring arus mudik dan kegiatan ibadah.
Pengamanan yang baik bukan sekadar soal jumlah personel, tetapi juga pendekatan yang humanis. Di Bali, aparat keamanan bekerja bersama pecalang, yaitu penjaga adat yang memiliki otoritas sosial di tingkat desa dan kampung. Kolaborasi antara aparat negara dan lembaga adat menjadi contoh bagaimana sistem keamanan berbasis komunitas dapat berjalan efektif.
Model seperti ini sebenarnya dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Keamanan bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang membangun rasa saling percaya antara masyarakat dan aparat.
Dalam konteks toleransi, kehadiran negara berfungsi sebagai penjamin bahwa setiap warga dapat menjalankan ibadahnya dengan aman. Prinsip ini sejalan dengan nilai dasar negara yang menempatkan kebebasan beragama sebagai hak fundamental.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!