Saat Idul Fitri Tiba! Saatnya Dodol Betawi Biasa Disajikan, Intip Cara Bikinnya Nyok!

Kamis, 12 Mar 2026, 04:52 WIB

TANGERANG SELATAN - Dodol Betawi merupakan penganan khas Jakarta dengan cita rasa manis, legit, dan kenyal.

Kudapan itu biasanya disajikan saat Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha sebagai simbol kebersamaan dan bagian dari tradisi.

Ket. Foto: Seorang pekerja mengaduk adonan dodol Betawi, penganan khas Jakarta yang terbuat dari tepung beras ketan, gula aren, dan santan, untuk menyambut perayaan Idul Fitri di Kelurahan Cilenggang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada 11 Maret 2026. — Sumber: Xinhua/Agung Kuncahya B

Dodol Betawi terbuat dari campuran tepung beras ketan, gula aren, dan santan, yang dimasak hingga menghasilkan warna cokelat kehitaman serta tekstur yang lembut dan padat.

Terkenal karena proses pembuatannya yang rumit dan memakan waktu lama, dodol Betawi laris manis diburu masyarakat menjelang hari raya.

20260312003916_3.jpg

Seorang pekerja mengaduk adonan dodol Betawi, penganan khas Jakarta yang terbuat dari tepung beras ketan, gula aren, dan santan, untuk menyambut perayaan Idul Fitri di Kelurahan Cilenggang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada 11 Maret 2026. Xinhua/Agung Kuncahya B.

Setu Babakan

Proses pembuatan dodol tradisional yang menjadi salah satu makanan khas warga Betawi bisa disaksikan di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Lebaran Betawi.

Di pinggiran setu yang berdampingan dengan kompleks Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, terdapat beberapa tenda yang menjajakan dodol betawi serta menyajikan proses pembuatannya secara langsung.

Dani dan Iwan dari Dodol Betawi Pak Satibi, bergantian mengaduk adonan kental berkelir cokelat menggunakan sebilah kayu pada sebuah kuali berdiameter sekira 1 meter.

Aroma harum santan dan gula merah tercium di sekitar tenda-tenda itu.

Mereka sesekali meninggalkan adonan itu untuk melayani pengunjung Lebaran Betawi yang ingin membeli dodol di anjungan mereka.

Dani dan Iwan pun mengizinkan orang-orang sekadar mencicipi dodol secara langsung dari kuali dengan memakai sebuah sendok.

20260312003815_2.jpg

Dodol betawi dimasak secara langsung pada perayaan Lebaran Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan. (Antara News/Alviansyah P)

Adonan dodol yang masih panas itu lalu diletakkan pada wadah kecil untuk dicicipi pengunjung. Potongan kecil dodol yang sudah masak pun disediakan kepada pengunjung untuk dicoba.

Sambil mengaduk adonan, Dani mengatakan proses pembuatan dodol betawi memakan waktu hingga 8 jam.

“Ini bedanya dengan dodol lain, dodol betawi harus diaduk berjam-jam supaya rasanya mantap dan khas,” kata Dani di Setu Babakan.

Bahan-bahan yang diperlukan cukup sederhana antara lain beras putih, beras ketan, kelapa untuk santan, gula merah, dan gula putih.

Minyak dari santan yang memberikan rasa gurih dan aroma nikmat disiapkan lebih awal, sebelum adonan tepung beras ketan diracik dengan bauran santan.

Adapun gula merah yang dipadu gula putih kemudian dicampurkan pada adonan beras ketan lalu diaduk selama tujuh sampai delapan jam di atas kuali yang dibakar menggunakan kayu.

“Beda dengan dodol lain, kalau dodol betawi hanya menyediakan tiga rasa yaitu rasa asli, rasa ketan hitam dengan wijen dan rasa durian,” kata dia.

Panganan ringan yang umumnya dijual 10 - 15 ribu rupiah untuk kemasan kecil dan mencapai 75 ribu rupiah pada kemasan baskom itu umumnya dicari masyarakat Jakarta saat menjelang akhir Bulan Ramadan hingga Idul Fitri, atau pada acara-cara khusus seperti khitanan dan resepsi pernikahan. Ant

  • Dodol Betawi

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Gubernur Minta PWNU Banten Jaga Kekompakan Jelang Muktamar Ke-35 NU

Anggota DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Guru PPPK Daerah 3T jadi PNS

Basarnas Evakuasi Lansia-Ibu Hamil di NTT yang Sakit dan Trauma Gempa

Sidang Kasus Praktik Calo Jabatan oleh Bupati Nonaktif Fadia Arafiq Ungkap Dugaan Peran Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan

BPBD Jabar Berangkatkan 20 Personel Bantu Korban Gempa NTT

Tekan Emisi, Gubernur Pramono Targetkan 10.000 Bus Elektrik Sudah Broperasi di Jakarta pada 2030

Tradisi Mulud Adat Bayan Pertama Kalinya Masuk Kalender KEN

Trump Ancam Hukuman Ekonomi ke Negara Mana pun yang Bantu Iran

Gibran Tinjau Dampak Gempa di NTT, Pastikan Keselamatan dan Kebutuhan Dasar Warga Jadi Prioritas

Mesin Ekonomi Baru di Pesisir! KNMP Konawe Suplai 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor ke Luar Kota

Komisi X DPR Minta BPK NTT Laporkan Kondisi Situs Budaya yang Terdampak Gempa

Kejar Target Bebas Emisi, Pemprov DKI Jakarta Bakal Operasikan 10 Ribu Bus Listrik

Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya

Pestani Rawit Groo Festival: PT Petrokimia Gresik Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas Cabai

Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak

MinyaKita Dijual Rp31 Ribu, Mobil GASING Keliling Batam Tekan Harga Sembako

Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk Kedua di Dunia, Data Real-time IQAir Catat AQI 161

Fantastis! Sindikat Pemalsuan Materai di Lima Provinsi Rugikan Negara Rp1,03 Triliun

BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri

Polda dan 22 Ormas se-Banten Gelar Apel Kamtibmas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.