Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk Kedua di Dunia, Data Real-time IQAir Catat AQI 161
Kamis, 20 Agu 2026, 14:24 WIBJAKARTA â Kualitas udara Jakarta berada pada kategori tidak sehat pada Kamis (20/8). Berdasarkan pemantauan real-time IQAir, Jakarta menempati peringkat kedua kota besar dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Dalam catatan IQAir pada pukul 13.00â14.00 WIB, Kamis (20/8), Jakarta memiliki Air Quality Index (AQI) US sebesar 161. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, berdasarkan skala AQI IQAir yang menempatkan rentang 151-200 dalam kategori tersebut.
Dalam daftar yang diperbarui secara berkala itu, Jakarta berada di bawah Kuching, Malaysia, yang menempati peringkat pertama dengan AQI 205. Sementara Addis Ababa, Ethiopia, berada di posisi ketiga dengan AQI 137, disusul Dubai, Uni Emirat Arab, dengan AQI yang sama.
Dengan posisi tersebut, Jakarta menjadi kota dengan kualitas udara terburuk kedua di antara lebih dari 100 kota besar dunia yang dipantau IQAir secara langsung. IQAir menjelaskan bahwa pemeringkatan tersebut merupakan perbandingan nilai AQI kota-kota besar secara per jam sehingga posisi dapat berubah seiring perubahan kondisi udara.
Di Jakarta sendiri, IQAir mencatat pemantauan dilakukan melalui 48 stasiun dari 40 kontributor, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Polutan yang menjadi perhatian utama adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. IQAir sebelumnya mencatat bahwa konsentrasi PM2.5 di kawasan metropolitan Jakarta sepanjang 2025 rata-rata mencapai 34,1 mikrogram per meter kubik, hampir enam kali lipat pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sebesar 5 mikrogram per meter kubik.
IQAir juga mencatat pola musiman pada kualitas udara Jakarta. Berdasarkan analisis data pemantauan 2019 hingga 2023, konsentrasi PM2.5 cenderung mencapai tingkat tertinggi pada Juni, Juli, dan Agustus, bertepatan dengan periode musim kemarau. Kondisi kemudian cenderung membaik mulai September hingga April saat memasuki periode yang lebih basah.
Menurut IQAir, sejumlah faktor berkontribusi terhadap polusi udara Jakarta, antara lain emisi kendaraan, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, serta kebakaran hutan dan lahan. Pada musim kemarau, kondisi angin yang lemah juga dapat membuat partikulat bertahan lebih lama di dekat permukaan.
IQAir menyebut pembangkit listrik batu bara di luar kawasan metropolitan Jakarta dapat berkontribusi terhadap PM2.5 di ibu kota. Penelitian yang dikutip IQAir memperkirakan kontribusinya berada pada kisaran 5 hingga 31 persen pada hari-hari tertentu. Kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan juga disebut dapat menyumbang polusi ketika asap terbawa angin menuju Jakarta.
Dengan AQI 161, IQAir mengklasifikasikan udara Jakarta sebagai tidak sehat. Pada kategori ini, paparan polusi udara menjadi perhatian bagi masyarakat secara umum, sementara kelompok yang lebih sensitif dapat menghadapi risiko yang lebih besar.
Data tersebut merupakan pemantauan real-time, bukan peringkat tahunan. Karena itu, posisi Jakarta di peringkat kedua dan nilai AQI 161 dapat berubah dalam hitungan jam mengikuti kondisi meteorologi dan konsentrasi polutan di udara.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.