BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri

Kamis, 20 Agu 2026, 14:17 WIB

Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan dalam konteks industrialisasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus mengambil peran sebagai pembangun kapabilitas, bukan hanya sebagai pemilik aset atau pelaksana proyek.

Dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (20/8), Menperin mengatakan cara itu dilakukan dengan memperkuat rantai nilai, mempercepat hilirisasi, membuka pasar, membawa industri kecil dan menengah masuk ke rantai pasok, serta membangun teknologi dan talenta.

Ket. Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan pembekalan pada Program P3MD Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Tangerang, Rabu (19/8). — Sumber: Antara

Hal itu disampaikan Agus saat memberikan pembekalan pada Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang, Rabu (19/8).

Dalam kesempatan itu, Menperin menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan BUMN dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian.

Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen tinggi untuk memperbaiki tata kelola BUMN secara substantif melalui pencetakan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan berjiwa patriot.

Ia menilai, Program P3MD merupakan sebuah terobosan out of the box yang menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan BUMN.

Menurut Agus, para calon pemimpin BUMN harus memiliki kemampuan membaca perubahan serta memastikan bisnis perusahaan yang dikelolanya tetap relevan dalam jangka panjang.

Ia mengatakan hal itu menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi yang dapat mengubah peta persaingan, rantai pasok, teknologi, hingga model bisnis perusahaan.

“Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang? Pertanyaan ini harus menjadi perhatian utama karena perubahan dunia berlangsung semakin cepat dan ketidakpastiannya semakin tinggi,” kata Menperin.

Agus menegaskan, besarnya aset, jumlah karyawan, kekuatan modal, maupun keberhasilan perusahaan pada masa lalu tidak otomatis menjamin keberlangsungan bisnis di masa depan.

Banyak perusahaan besar kehilangan posisi karena terlambat membaca perubahan, terlalu lama mempertahankan asumsi lama, serta lambat melakukan transformasi.

“Dalam dunia yang berubah cepat, size is not security. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan. Demikian pula, past success is not a guarantee of future relevance. Keberhasilan masa lalu tidak otomatis menjamin relevansi perusahaan di masa depan,” katanya menegaskan. 

Ia menjelaskan, BUMN memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena menguasai berbagai sektor penting, mulai dari infrastruktur, energi, pembiayaan, logistik, mineral, telekomunikasi, konstruksi, hingga pangan.

Oleh karena itu, kualitas kepemimpinan BUMN tidak hanya menentukan masa depan perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap arah pembangunan ekonomi nasional.

Menurut Agus, tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini semakin kompleks. Perubahan harga energi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok global, perubahan suku bunga, fluktuasi nilai tukar, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga transisi energi dapat mengubah struktur bisnis dalam waktu cepat.

Selain itu, perusahaan juga harus beradaptasi terhadap berbagai regulasi global terkait emisi, traceability, sustainability, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber, dan perlindungan data yang kini menjadi bagian penting dalam memperoleh pasar, pembiayaan, serta mitra internasional.

Hlirisasi SDA

Lebih lanjut, Menperin menyampaikan, industrialisasi bukan sekadar membangun kapasitas produksi, melainkan proses transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menekankan, hilirisasi sumber daya alam harus menjadi titik awal untuk membangun industri bernilai tambah di dalam negeri. Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pemasok bahan mentah atau hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.

Pihaknya mencatat, fundamental industri nasional saat ini menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan II tahun 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 16,83 persen terhadap PDB nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun.

Dari sisi investasi, realisasi investasi industri pengolahan nonmigas mencapai Rp199,48 triliun atau memberikan kontribusi sebesar 38,89 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja sektor tersebut hingga Februari 2026 mencapai 19,99 juta orang.

Pada Januari–Juni 2026, ekspor industri pengolahan nonmigas menembus 115,50 miliar dolar AS atau berkontribusi 82,03 persen terhadap total ekspor nasional.

Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada pada level 53,1 dan PMI Manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada level 50,2.

Dari sisi Manufacturing Value Added (MVA), nilai MVA Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 275,61 miliar dolar AS yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-12 dunia sekaligus terbesar di Asia Tenggara.

Capaian tersebut, menurut Agus, memperlihatkan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

BPBD Jabar Berangkatkan 20 Personel Bantu Korban Gempa NTT

Tekan Emisi, Gubernur Pramono Targetkan 10.000 Bus Elektrik Sudah Broperasi di Jakarta pada 2030

Tradisi Mulud Adat Bayan Pertama Kalinya Masuk Kalender KEN

Trump Ancam Hukuman Ekonomi ke Negara Mana pun yang Bantu Iran

Gibran Tinjau Dampak Gempa di NTT, Pastikan Keselamatan dan Kebutuhan Dasar Warga Jadi Prioritas

Mesin Ekonomi Baru di Pesisir! KNMP Konawe Suplai 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor ke Luar Kota

Komisi X DPR Minta BPK NTT Laporkan Kondisi Situs Budaya yang Terdampak Gempa

Kejar Target Bebas Emisi, Pemprov DKI Jakarta Bakal Operasikan 10 Ribu Bus Listrik

Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya

Pestani Rawit Groo Festival: PT Petrokimia Gresik Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas Cabai

Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak

MinyaKita Dijual Rp31 Ribu, Mobil GASING Keliling Batam Tekan Harga Sembako

Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk Kedua di Dunia, Data Real-time IQAir Catat AQI 161

Fantastis! Sindikat Pemalsuan Materai di Lima Provinsi Rugikan Negara Rp1,03 Triliun

BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri

Polda dan 22 Ormas se-Banten Gelar Apel Kamtibmas

Airlangga: Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Berbasis Tenaga Surya

Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit

Kapasitas Terpasang Panas Bumi Baru 11,6%, Bahlil: Jangan Tahan Konsesi!

Komisi XIII DPR Buka Peluang Bentuk Badan Khusus soal TPPO

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.