Tergerus Stabilisasi Rupiah, Cadangan Devisa Februari Susut ke 151,9 Miliar Dolar AS
Jumat, 06 Mar 2026, 17:40 WIBJAKARTA â Penurunan cadangan devisa mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar keuangan, terutama ketika otoritas moneter harus lebih agresif melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Langkah stabilisasi ini memang penting untuk meredam volatilitas di tengah ketidakpastian global, namun di sisi lain menggerus bantalan devisa yang menjadi penopang ketahanan eksternal.
Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini tidak hanya bergantung pada intervensi pasar, tetapi juga membutuhkan dukungan fundamental ekonomi yang kuat serta aliran devisa yang berkelanjutan agar tekanan terhadap cadangan devisa tidak terus berlanjut.
Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap tinggi sebesar 151,9 miliar dolar AS, meski turun dibandingkan posisi akhir Januari 2026 sebesar 154,6 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (6/3), menyampaikan perkembangan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
Kondisi ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons bank sentral Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
BI memastikan posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank sentral juga menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
BI meyakini bahwa ke depan, ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tutup Ramdan.
Cadangan devisa menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro suatu negara. Posisi cadangan devisa yang kuat memberi ruang bagi otoritas moneter untuk meredam gejolak di pasar keuangan, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kewajiban pembayaran internasional.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, keberadaan cadangan devisa yang memadai juga berfungsi sebagai bantalan (buffer) untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan ketahanan sektor eksternal tetap terjaga.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Timmas Indonesia vs Singapura, Wajib Menang, Herdman Siapkan Wajah Baru
-
JEF 2026 Dirancang BI DKI Jadi Ajang Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
-
Youth Today, Leaders Tomorrow: BI dan Pemprov DKI Bentuk 500 Pemimpin Muda Jakarta
-
30 UMKM Binaan BI DKI Mejeng di KKI 2026, Target Perluas Pasar & Akses Pembiayaan
-
Rhoma Irama Obati Kerinduan Fans Setelah 20 Tahun, Goyang Publik Malaysia di Latihan Pestapora
-
BI Pastikan Uang Digital Tidak Akan Gantikan Uang Tunai
-
KKI 2026 Catat Transaksi Rp177,21 Miliar, UMKM DKI Kuatkan Ekspor & Pembiayaan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.