Penanganan Karhutla di Kalbar Difokuskan di Tiga Kabupaten

Senin, 03 Agu 2026, 14:30 WIB

PONTIANAK - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar) memprioritaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah. Ketiga kabupaten itu menjadi fokus penanganan karena menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar agar tidak berdampak luas.

"Berdasarkan hasil perhitungan luas lahan terbakar periode Januari hingga Juni, tiga kabupaten yang menjadi perhatian utama adalah Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah," kata Daniel Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Kalbar Daniel di Pontianak, Senin (3/8).

Ket. Foto: Karhutla di Kalbar — Sumber: antara foto

Daniel mengatakan ketiga daerah tersebut menjadi fokus operasi darat dan udara karena asapnya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Ia menjelaskan asap dari wilayah tersebut berpotensi memengaruhi operasional Bandara Supadio, aktivitas pelabuhan, serta telah mulai memasuki Kota Pontianak sehingga perlu dilakukan penanganan lebih masif.

Dia juga mengatakan operasi penanggulangan karhutla diawali dengan patroli udara untuk melakukan verifikasi dan validasi informasi titik panas yang diperoleh dari BMKG sebelum menentukan langkah pemadaman.

Menurut dia, hasil patroli udara tidak hanya memeriksa titik panas yang terdeteksi, tetapi juga kerap menemukan titik api baru yang belum tercatat dalam data sehingga langsung dilaporkan kepada satuan tugas darat maupun udara untuk segera ditangani.

"Data titik panas menjadi kompas bagi kami, tetapi bukan satu-satunya acuan. Patroli di lapangan tetap diperlukan untuk menemukan dan memverifikasi titik api yang sebenarnya," tuturnya.

Daniel menyebutkan berdasarkan data BMKG, jumlah titik panas di Kalimantan Barat mencapai 466 titik, terdiri atas tiga titik kategori rendah, 459 kategori sedang, dan empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Ia menambahkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat berpotensi mengalami karhutla pada periode 1-7 Agustus 2026 karena curah hujan diprakirakan hanya berada pada kategori ringan sehingga belum mampu menurunkan risiko kebakaran.

Menurut Daniel, operasi pemadaman darat menjadi pilihan utama apabila lokasi kebakaran mudah dijangkau dan memiliki sumber air yang memadai. Namun, apabila akses sulit atau sumber air terbatas, BPBD akan mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing.

Ia menjelaskan pemadaman melalui udara lebih efektif dilakukan pada lahan mineral karena api hanya membakar permukaan tanah.

Sementara pada lahan gambut, api dapat menjalar hingga kedalaman beberapa meter sehingga memerlukan penyiraman berulang dan dilanjutkan dengan pemadaman darat melalui teknik penyuntikan air ke lapisan gambut.

"Koordinasi antara patroli udara, satuan tugas darat, dan instansi terkait terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat dan efekti," katanya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.