RI Harus Kurangi Kebergantungan pada Ekonomi Tiongkok
📅 Jumat, 06 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiSementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Achmad Maruf, menilai angka tersebut relatif realistis mengingat ekonomi dunia saat ini masih dibayangi perlambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik.
Tiongkok jelas Maruf sedang memasuki fase pertumbuhan yang lebih moderat dibandingkan era sebelumnya yang sangat ekspansif. Bagi Indonesia, stabilitas pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi faktor penting, karena negara tersebut merupakan salah satu mitra dagang utama.
Selama ekonomi Tiongkok tetap tumbuh di kisaran tersebut, permintaan terhadap komoditas dari Indonesia seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit berpotensi tetap terjaga. Hal itu penting bagi Indonesia karena kinerja ekspor komoditas masih menjadi salah satu penopang neraca perdagangan nasional.
Dia juga mengingatkan bahwa target pertumbuhan yang lebih moderat juga mencerminkan adanya perubahan struktur ekonomi di Tiongkok. Negara tersebut semakin berfokus pada penguatan industri bernilai tambah tinggi seperti teknologi, kendaraan listrik, dan manufaktur maju. Kondisi ini dapat meningkatkan persaingan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama dalam sektor industri manufaktur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!