Strategi Resi Gudang Dongkrak Ekspor Rumput Laut ke Tiongkok
📅 Kamis, 05 Mar 2026, 21:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – Optimalisasi pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem perdagangan komoditas, khususnya bagi petani dan pelaku usaha kecil di sektor pertanian.
Melalui skema ini, komoditas yang disimpan di gudang dapat dijadikan jaminan pembiayaan sehingga pelaku usaha tidak harus menjual hasil panen saat harga sedang rendah.
Dengan demikian, SRG dapat membantu menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai perdagangan.
Selain itu, pemanfaatan SRG yang optimal juga berpotensi memperbaiki tata niaga komoditas secara lebih transparan dan efisien.
Dukungan infrastruktur gudang, akses pembiayaan, serta sosialisasi yang lebih luas kepada pelaku usaha menjadi kunci agar sistem ini benar-benar mampu mendorong stabilitas pasar dan memperkuat ketahanan ekonomi sektor pertanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) terus dioptimalkan untuk mendukung ekspor komoditas ke pasar global, salah satu hasilnya adalah keberhasilan ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai 100.215 dolar AS atau setara Rp1,7 miliar ke Tiongkok.
Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/3), Budi menyebut ekspor ini dilakukan melalui Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Maros, Sulawesi Selatan. Gudang ini merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh PT Wahana Pronatural, Tbk (PT WAPO).
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas akses pasar internasional melalui sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, dan eksportir. Selain itu, ke depan SRG akan terintegrasi dengan program Desa Bisa Ekspor (DBE) yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, termasuk petani.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Akses pasar komoditas yang disimpan dalam gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi Atase Perdagangan RI dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara," kata Budi.
Melalui DBE, lanjut Budi, produk unggulan seperti rumput laut yang diproduksi para petani atau nelayan di berbagai desa dapat disimpan di gudang SRG dan dijual ketika harga pasar menguntungkan.
Program DBE bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor di desa melalui enam pilar strategi, yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, produktivitas dan teknologi, logistik, pembiayaan, serta promosi dan akses pasar.
Di tengah tantangan perdagangan global dan penurunan harga komoditas, Indonesia tetap berupaya meningkatkan ekspor ke berbagai negara. Pemerintah juga terus menempuh berbagai langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian situasi geopolitik global untuk menjaga stabilitas perdagangan nasional.
Menurut Budi, dalam menjawab tantangan dan peluang perdagangan global tersebut, SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tunda jual.
Pemanfaatan SRG juga membuka akses pasar; menyediakan informasi ketersediaan, sebaran, mutu, dan nilai komoditas; serta memberikan kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
25 Mar 2026, 13:53 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!