Perang di Timur Tengah, Momentum Lebih Serius Transisi ke Energi Terbarukan
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kita tidak boleh lengah. Stabilitas energi adalah fondasi stabilitas ekonomi nasional,” kata Christiany di Jakarta, Selasa.
Dalam asumsi APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok sebesar 70 dollar AS per barel, namun perkembangan situasi global berpotensi mendorong harga melampaui angka tersebut dan memberi tekanan serius terhadap fiskal.
Ia pun mengingatkan bahwa Indonesia saat ini masih mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dengan nilai mencapai sekitar 15 miliar dollar AS atau setara lebih dari 250 triliun per tahun. Ketergantungan pada pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gejolak harga global.
Setiap kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi APBN dapat berdampak langsung pada peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi. Jika harga minyak dunia melonjak hingga mendekati 80-100 dollar AS per barel sebagaimana diproyeksikan sejumlah analis global, tekanan terhadap APBN, nilai tukar rupiah, serta inflasi domestik berpotensi meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kecukupan stok dan kelancaran distribusi, terutama periode Ramadan dan Idul Fitri di mana konsumsi energi masyarakat meningkat signifikan. Penguatan cadangan operasional, diversifikasi sumber impor, serta optimalisasi kilang domestik dinilai menjadi langkah strategis untuk memitigasi risiko gangguan pasokan.
Diminta dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan perang di Timur Tengah menyebabkan jalur perdagangan energi fosil tertutup. Hal itu merupakan momen tepat untuk mengakselerasi transisi energi di dalam negeri.
Fabby memenilai, krisis di Timur Tengah menjadi kesempatan Indonesia untuk mengkaji ulang strategi mencapai swasembada dan ketahanan energi nasional. Pasokan energi Indonesia yang didominasi oleh energi fosil merupakan sumber kerentanan energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pasokan energi kita sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan dinamika Timur Tengah. Tidak saja itu, kenaikan harga energi fossil membuat kita menghadapi lonjakan subsidi, melebarnya defisit anggaran dan tekanan pada nilai tukar,”tegas Fabby.
Untuk mengatasi tantangan itu, perlu ada upaya untuk mengurangi volatilitas pasokan energi dengan cara mempercepat diversifikasi minyak dan liquefied petroleum gas (LPG), elektrifikasi memasak untuk mensubstitusi LPG.
Hal lainnya yang perlu diakseleratif lanjut Fabby ialah dengan memperbesar elektrifikasi kendaraan atau sarana transportasi untuk menjaga laju permintaan bahan bakar minyak (BBM) serta mendorong pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap di perkotaan guna menurunkan konsumsi BBM dan gas.
Sementara itu, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Muhammad Yamin menilai konflik di Timur Tengah menjadi ujian serius bagi ketahanan energi Indonesia di tengah ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan volatilitas harga energi global.
“Konflik di Timur Tengah bukan hanya persoalan geopolitik regional, tetapi langsung menguji ketahanan energi Indonesia karena struktur impor kita masih sangat besar,” kata Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed Purwokerto itu.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sekitar 50 persen kebutuhan minyaknya, kondisi tersebut akan berdampak langsung pada APBN.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!