Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perang di Timur Tengah, Momentum Lebih Serius Transisi ke Energi Terbarukan

📅 Rabu, 04 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perang di Timur Tengah, Momentum Lebih Serius Transisi ke Energi Terbarukan Doc: Planet Labs PBC/AFP
Ket. Ancaman Krisis Energi global - Foto satelit yang dirilis oleh Planet Labs PBC, Senin (2/30) memperlihatkan asap yang mengepul pascaledakan di Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, di sepanjang Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (LNG).

Optimalisasi kilang domestik dinilai menjadi langkah strategis untuk memitigasi risiko gangguan pasokan.

JAKARTA - Setiap ada konflik bersenjata di kawasan strategis terutama yang melibatkan negara produsen pangan dan energi, maka dampaknya akan terasa ke negara-negara importir termasuk Indonesia. Maka tidak heran, begitu ada faktor geopolitik yang menyebabkan instabilitas keamanan, maka saat itu pula menggugah kesadaran bangsa untuk mengupayakan kemandirian pangan dan energi. 

Begitu pula yang terjadi di Indonesia, terutama dalam dua perang terakhir yaitu saat Russia menganeksasi Ukraina dan terakhir, saat Israel bersama Amerika Serikat (AS) menyerang Iran.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, perang di Timur Tengah saat ini harus menjadi momentum untuk lebih serius mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri sebagai substitusi energi fosil yang kini dipastikan jalur distribusinya terkendala.

“Energi fosil harus mulai digantikan oleh EBT,” kata Nailul.

Pengembangan mobil listrik hingga pembangkit energi industri seharusnya sudah mulai dipikirkan dari EBT.

“Teknologi panel surya seharusnya bisa mempunyai peran penting dalam suplai energi ke industri dan juga dari pembangkit listrik. Begitu juga mobil listrik harus digerakkan oleh sumber energi yang bersih,” katanya.

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas juga mendorong penguatan energi dan ekonomi nasional sebagai imbas eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS.

Ibas mengatakan situasi tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.

Secara spesifik, Ibas menyoroti Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit itu, sehingga eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (LNG) dari Qatar. Jika stabilitas di selat tersebut terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan.

Jangan Lengah

Secara terpisah, Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Tetty Paruntu, meminta PT Pertamina (Persero) memperkuat langkah antisipatif dalam pengadaan dan distribusi energi nasional sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik yang kembali memicu lonjakan volatilitas harga minyak dunia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...

Wabah Ebola Tewaskan Lebih dari 4.000 Warga di Kongo

25 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Wabah Ebola Tewaskan Lebih ...
Daerah
Anggaran PUPR Karawang Masi...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.