Investasi Rp3.000 Triliun Menanti, Wakil Ketua MPR: Indonesia Jangan Cuma Jadi Penonton Revolusi Hijau!
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 17:20 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan bahwa percepatan transisi menuju energi terbarukan harus diletakkan sebagai pilar utama strategi industrialisasi nasional yang memberikan dampak langsung bagi rakyat.
Eddy dalam keterangan di Jakarta, Rabu mengatakan percepatan tersebut juga memberikan lapangan kerja baru (green jobs) bagi tenaga kerja terampil Indonesia.
Dia menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat strategis dengan potensi energi terbarukan nasional mencapai ribuan gigawatt, dengan komposisi signifikan dari tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, dan geothermal.
"Green jobs akan membuka peluang bagi insinyur, teknisi, ahli baterai, pekerja manufaktur panel surya, operator BESS hingga tenaga riset dan inovasi. Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini," kata Eddy.
Dia juga menjelaskan keunggulan Indonesia pada critical minerals seperti nikel dan tembaga yang sangat penting untuk baterai kendaraan listrik, battery energy storage system (BESS), dan infrastruktur energi baru dan terbarukan (EBT).
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika rantai pasok industri itu diproduksi dan diproses di dalam negeri, maka transisi energi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, dia menekankan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs serta berkontribusi pada pertumbuhan PDB tahunan sebesar 0,1-0,7 persen.
"Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini,” kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia mengatakan RUPTL 2025-2034 yang merencanakan tambahan kapasitas terpasang sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW, di antaranya berasal dari energi baru terbarukan serta tambahan 10,3 GW dari BESS.
Total investasi yang dibutuhkan hingga 2034 diperkirakan mencapai sekitar 190 miliar dolar AS atau sekitar 19 miliar dolar AS per tahun.
"Angka investasi sebesar 190 miliar dolar AS ini adalah peluang industrialisasi baru. Segenap upaya harus dilakukan agar Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi di bidang energi terbarukan," katanya.
Selain itu, menurut dia, sinergi antara solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan solusi berbasis rekayasa (engineered-based solutions) dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Dengan cadangan karbon alami yang besar dari hutan, mangrove, dan gambut serta potensi CCS/CCUS yang signifikan, menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem ekonomi rendah karbon yang terintegrasi.
“Jika kita mampu membangun industri EBT berbasis produksi domestik, memperkuat manufaktur dalam negeri, dan memanfaatkan mineral kritis secara strategis maka Indonesia akan menjadi juga produsen dan eksportir teknologi rendah karbon," kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!