Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

IHSG Berisiko Tertekan, 2 Maret 2026

📅 Senin, 02 Mar 2026, 05:45 WIB | Oleh:
IHSG Berisiko Tertekan, 2 Maret 2026 Doc: istimewa

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) be­risiko tertekan awal pekan ini, imbas dari memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Agresi militer Amerika Serikat (AS) ke Iran bakal memicu aksi jual terhadap aset berisiko atau risk-off dan beralih ke aset safe haven.

Analis pasar modal sekaligus Found­er Republik Investor Hendra Wardana mengingatkan memanasnya konflik an­tara Iran dan AS-Israel bukan hanya sekadar isu politik, namun sudah masuk ke ranah risiko ekonomi di tingkat global. “Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ujar Hendra di Jakarta, Minggu (1/3).

Karenanya, Hendra memproyeksikan IHSG dalam per­dagangan, Senin (2/3), bergerak melemah untuk menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300.

Seperti diketahui, serangan brutal gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) dini hari waktu se­tempat menyasar sejumlah wilayah strategis, termasuk ibu kota Teheran. Sejumlah rudal menghantam kawasan dekat kediaman Khamenei dan istana kepresidenan. Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya meninggal dalam serangan itu, media setempat melaporkan.

Sebelumnya, IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/2) sore, ditutup menguat 0,23 poin atau 0,00 persen ke posisi 8.235,49 di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap data-data ekonomi domestik maupun manca­negara pada pekan depan. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,53 poin atau 0,42 per­sen ke posisi 834,36. “Menantikan sejumlah data indika­tor ekonomi penting pada pekan depan,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.

Sebelumnya, IHSG bergerak melemah hampir sepan­jang perdagangan akibat sentimen negatif ketidakpasti­an tarif Amerika Serikat (AS), peringatan mengenai me­ningkatnya tekanan fiskal di Indonesia dari S&P Global Ratings, serta rebalancing MSCI pada akhir bulan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Mobil Tabrak Kerumunan Oran...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.