Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lonjakan Ekspor ke Amerika Serikat Harus Jadi Momentum Transformasi

📅 Jumat, 27 Feb 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Lonjakan Ekspor ke Amerika Serikat Harus Jadi Momentum Transformasi Doc: istimewa
Ket. Perjanjian Dagang - Produk RI yang Dikenai Tarif Rendah Harus Penuhi Standard AS

Kenaikan ekspor harus diarahkan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah dan pengurangan ketergantungan pada komoditas primer.

JAKARTA – Indonesia perlu memaksimalkan momentum tarif nol persen untuk sejumlah produk di pasar Amerika Serikat (AS) sebagai strategi ekspansi ekspor yang terukur. Kebijakan ini membuka ruang peningkatan daya saing harga produk nasional, sehingga berpotensi memperluas pangsa pasar dan mendongkrak kinerja neraca perdagangan.

Namun, peluang tersebut tidak boleh berhenti pada peningkatan volume ekspor semata. Tarif nol persen harus dimanfaatkan untuk mendorong diversifikasi produk, hilirisasi industri, serta peningkatan kandungan nilai tambah agar Indonesia tidak terus bergantung pada komoditas primer.

Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menilai potensi kenaikan ekspor Indonesia ke AS hingga 15 persen merupakan peluang rasional, khususnya bagi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), minyak sawit (CPO), serta elektronik. Namun, dia menegaskan momentum ini harus dibaca secara struktural, bukan sekadar peningkatan angka perdagangan.

Menurutnya, kenaikan ekspor harus diarahkan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah dan pengurangan ketergantungan pada komoditas primer. Di sektor TPT, misalnya, lonjakan ekspor berpotensi menyerap tenaga kerja, tetapi struktur industri yang masih bergantung pada bahan baku impor dan aktivitas hilir berbiaya murah menjadi tantangan serius.

“Tanpa penguatan industri hulu dan inovasi, Indonesia berisiko tetap berada pada posisi manufaktur berupah rendah,” ujar Badiul Hadi, Kamis (26/2) menanggapi kesepakatan dagang RI-AS.

Pada sektor sawit, tambahan ekspor memang berdampak positif bagi devisa, namun komoditas ini rentan terhadap isu lingkungan dan tekanan non-tarif. Karena itu, penguatan tata kelola, transparansi rantai pasok, serta hilirisasi produk turunan menjadi kunci.

Sementara di sektor elektronik, peluang terbesar terletak pada masuknya Indonesia ke rantai pasok global, asalkan didukung transfer teknologi, penguatan SDM teknik, dan investasi riset. Secara makro, peningkatan ekspor dapat memperbaiki neraca perdagangan dan menopang pertumbuhan.

“Namun perjanjian dagang ini menjadi ujian arah pembangunan ekonomi: apakah tetap bertumpu pada komoditas dan manufaktur murah, atau dimanfaatkan sebagai momentum transformasi menuju ekonomi bernilai tambah dan berdaya saing tinggi,” jelasnya.

Penuhi Standard

Sementara itu, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan produk Indonesia yang masuk ke AS akan diberikan tarif lebih rendah. Asalkan, produk tersebut harus memenuhi standard AS dan memiliki kandungan lokal (local content input) dari AS.

"Artinya, kita harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh AS, seperti standar kualitas dan kandungan lokal, untuk dapat menikmati tarif yang lebih rendah," kata Esther Sri Astuti.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ragimun menilai perjanjian perdagangan Indonesia dan AS mendorong peningkatan ekspor produk industri nasional hingga 15 persen.Ragimun mengatakan perjanjian tersebut memberikan kemudahan akses pasar bagi ekspor Indonesia ke AS, sehingga membuka peluang peningkatan perdagangan bilateral yang perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri dalam negeri.

“Yang jelas peningkatan perdagangan akan meningkat, dan Indonesia harus memaksimalkan kesempatan perdagangan tersebut melalui upaya opsi-opsi, produk-produk alternatif lainnya,” ujarnya dihubungi di Jakarta, Rabu. Menurut dia, sektor yang berpotensi mencatat kenaikan ekspor masih didominasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, peralatan rumah tangga, minyak kelapa sawit (CPO), barang elektronika dan telekomunikasi, serta produk karet.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Kemnaker Ajak Dunia Usaha P...
Luar Negeri
AS Berlakukan Sanksi Baru p...

Kenaikan biaya harga pakan ayam

2 jam lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Kenaikan biaya harga pakan ...

Pameran Indofest 2026

2 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pameran Indofest 2026

Pendaftaran SMPB di Jateng

2 jam lalu | Wahyu AP

Nasional
Pendaftaran SMPB di Jateng
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 8
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
📅 Jumat, 05-Jun-2026
# 8
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
📅 Jumat, 05-Jun-2026
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.