Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pilot Berpengalaman Terbang Lebih dari 8.000 Jam, Apa Penyebab Jatuhnya? Pelita Air Gandeng KNKT Lakukan Investigasi

📅 Jumat, 20 Feb 2026, 01:14 WIB | Oleh:
Pilot Berpengalaman Terbang Lebih dari 8.000 Jam, Apa Penyebab Jatuhnya? Pelita Air Gandeng KNKT Lakukan Investigasi Doc: ANTARA/HO-Camat Krayan Timur Lianthoni
Ket. Pesawat pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang jatuh dan terbakar di Pa’ Belaban di lokasi Pa’ Betung, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

JAKARTA - Investigasi mengenai penyebab jatuhnya pesawat carter di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimatan Utara, yang menyebabkan pilot pesawat itu meninggal dunia akan segera dilakukan PT Pelita Air Service dengan menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mencari faktor penyebabnya.

Maskapai Pelita Air Service menyatakan pesawat yang jatuh di wilayah Nunukan tersebut merupakan pesawat dengan layanan kargo pengangkut bahan bakar, bukan pesawat angkutan penumpang. Pesawat itu menjalankan misi rutin distribusi program BBM Satu Harga di wilayah Kalimantan Utara.

"Pelita Air Service bersama KNKT akan memberangkatkan tim gabungan ke Long Bawan pada 20 Februari 2026 untuk segera memulai proses investigasi penyebab jatuhnya pesawat," kata Corporate Secretary Pelita Air Service Patria Rhamadonna dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (19/2).

Pesawat itu dilaporkan lepas landas pada pukul 10.22 WITA dan mendarat dengan baik di Long Bawan pada pukul 11.24 WITA. Setibanya di Long Bawan, petugas darat segera melakukan proses pembongkaran muatan sehingga pesawat siap untuk kembali menuju Tarakan dalam kondisi tanpa muatan pada pukul 12.10 WITA.

Namun, pada pukul 12.30 WITA, kantor pusat PT Pelita Air Service di Jakarta menerima informasi awal mengenai kondisi pesawat PK-PAA yang diduga jatuh tidak jauh dari Bandara Long Bawan. Kondisi itu mengakibatkan pilot meninggal dunia.

Pelita mengklaim armada pesawat yang digunakan dalam penerbangan tersebut adalah tipe Air Tractor AT-802 tahun produksi 2013 yang berada dalam kondisi laik terbang serta telah menjalani perawatan rutin terkini pada 15 Februari 2026.

Penerbangan itu diawaki oleh satu orang pilot, yaitu Capt. Hendrick Lodewyck Adam, berusia 54 tahun, yang bergabung dengan PT Pelita Air Service sejak Juli 2021 dengan total pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam.

Manajemen PT Pelita Air Service menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya pilot yang bertugas. Perusahaan memastikan akan memenuhi seluruh hak dan santunan kepada keluarga almarhum serta memberikan pendampingan yang diperlukan selama masa duka.

Perusahaan juga memastikan untuk terus berkoordinasi dengan KNKT, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, serta seluruh pihak terkait guna memastikan proses investigasi berjalan transparan dan komprehensif.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis mengatakan pesawat tersebut telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Total pemeriksaan jam terbang pesawat mencapai 3.303 jam.

Dia menyampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub telah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan dengan baik.

"Proses investigasi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku oleh instansi berwenang," tegasnya.

Terpisah, Komandan Lanud Anang Busra Marsma TNI Andreas A. Dhewo di Tarakan, Kamis mengatakan saat keberangkatan pesawat itu, kondisi cuaca dilaporkan hujan ringan dengan jarak pandang sekitar 6 kilometer. Awan rendah (cloud base) terpantau broken di ketinggian 1.400 feet dengan suhu 23,9 derajat Celsius.

"Beberapa menit kemudian, saksi mata melihat pesawat menurun dalam posisi miring ke arah perbukitan di ujung runway 22," kata Andreas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Perum Bulog Belitung Pastik...
Daerah
Pemkab Pasaman Barat Minta ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.