Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemendes Dorong Desa Tangguh Hadapi Perubahan Iklim

📅 Kamis, 19 Feb 2026, 21:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kemendes Dorong Desa Tangguh Hadapi Perubahan Iklim Doc: Antara
Ket. Direktur Jenderal (Dirjen) Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT Samsul Widodo.

Jakarta - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menyiapkan strategi nasional untuk pengembangan desa berketahanan iklim sebagai bagian dari penguatan kebijakan pembangunan perdesaan menghadapi dampak perubahan iklim.

“Harapannya ke depan itu bisa menjadi pedoman siapa pun yang berkebutuhan dengan desa,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo dalam Workshop Formula Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) sebagai Insentif Tambahan Dana Desa di Daerah Tertinggal yang digelar di Kantor Ditjen PPDT Kemendes, Jakarta, Kamis (19/2).

Ia mengatakan strategi tersebut dirancang agar menjadi acuan bagi kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah dalam mengintegrasikan aspek mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan desa.

Lebih lanjut, Samsul Widodo mengatakan selama ini berbagai instrumen, seperti Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) telah disusun. Akan tetapi instrumen itu perlu diperkuat agar tidak berhenti sebagai data semata.

Menurut dia, strategi nasional desa berketahanan iklim dapat menjadi kerangka kebijakan yang mengarahkan penggunaan dana desa agar lebih sensitif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.
Melalui strategi nasional tersebut, pemerintah pun menargetkan terwujudnya desa yang mampu melakukan mitigasi, adaptasi, serta menjaga keberlanjutan ekonomi perdesaan di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Sebelumnya, ia telah mendorong adanya peningkatan kapasitas desa dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana menyusul tingginya tren bencana hidrometeorologi yang berdampak langsung pada wilayah perdesaan.

“Yang menjadi menarik, 98,33 persen adalah bencana hidrometeorologi. Jadi, banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, pembakaran hutan, dan kekeringan. Yang paling rentan dan paling kena risiko itu adalah desa,” kata Samsul Widodo.

Menurut dia, desa menjadi pihak yang paling terdampak bencana karena keterbatasan alternatif sumber penghidupan masyarakatnya.

“Saya selalu sampaikan, kalau kita orang Jakarta berdampak, kita masih punya tabungan atau apa. Tapi kalau orang desa, itu tidak bisa lagi. Artinya adalah bahwa dia satu-satunya sawah yang dia punyai, satu-satunya kebun yang dia punyai, satu-satunya ternak yang dia punyai sehingga dia tidak punya alternatif,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Gunung Piramid Disisir untuk Mencari Dua Pendaki yang Hilang

26 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Gunung Piramid Disisir untu...

Turnamen Cincinnati Open akan Diwarnai Duet Dua Williams

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Turnamen Cincinnati Open ak...

Gelar Mubadala Milik Taylor Fritz

36 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Gelar Mubadala Milik Taylor...
Megapolitan
Obat Keras Daftar G Sebanya...

Harga Cabai Rawit Rp61.450/Kg, Telur Ayam Rp31.800/Kg

44 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp61.450/...

Harga Telur di Tingkat Pengecer di Kabupaten Lebak Turun

50 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Telur di Tingkat Peng...

55 Kecamatan di Banten Krisis Air, Polda Kirim Bantuan

52 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
55 Kecamatan di Banten Kris...

4 Tempat Usaha Don Ritto Mulai Disisir Petugas Kejagung

57 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
4 Tempat Usaha Don Ritto Mu...
Daerah
ASN Yang Segera Memasuki Ma...

Kepala Daerah di Bali Berminat Dirikan Sekolah Berbasis Hindu

Kepala Daerah di Bali Berminat Dirikan Sekolah Berbasis Hindu

04 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.