Mataram Jadi Satu-satunya Daerah Deflasi di NTB pada Januari 2026
📅 Senin, 02 Feb 2026, 15:37 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/HO-BPS NTB
MATARAM -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Kota Mataram menjadi satu-satunya daerah Indeks Harga Konsumen atau IHK di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengalami deflasi bulanan pada Januari 2026 akibat penurunan harga komoditas hortikultura.
Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB Muhammad Ahyar mengatakan laju deflasi Kota Mataram sebesar minus 0,21 persen, sedangkan Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,80 persen dan 0,61 persen.
"Kota Mataram deflasi, sedangkan dua kota lainnya mengalami inflasi," ujarnya di Mataram, Senin.
Ahyar menuturkan lima komoditas penyumbang deflasi di Kota Mataram adalah bawang merah 0,13 persen, cabai rawit 0,11 persen, angkutan udara 0,09 persen, daging ayam ras 0,08 persen, dan cabai merah 0,06 persen.
Adapun komoditas penyumbang inflasi Kota Mataram berupa emas perhiasan sebesar 0,14 persen, nasi dengan lauk 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, cumi-cumi 0,02 persen, dan ikan kembung 0,02 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keberadaan komoditas yang mengalami kenaikan harga tersebut telah menahan laju deflasi agar tidak terlampau dalam pada Januari 2026.
Sementara itu, inflasi di Kabupaten Sumbawa dipengaruhi oleh komoditas ikan layang dengan andil sebesar 0,23 persen, emas perhiasan 0,22 persen, ikan bandeng 0,12 persen, ikan teri 0,12 persen, dan tomat 0,10 persen.
Meski komoditas hortikultura berupa cabai rawit, cabai merah, bawang merah, kubis, dan wortel menyumbang deflasi, namun laju deflasi tersebut belum cukup kuat untuk menahan pergerakan inflasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian lima daftar komoditas penyumbang inflasi di Kota Bima adalah emas perhiasan sebesar 0,19 persen, ikan bandeng 0,10 persen, ikan layang 0,08 persen, ikan bakar 0,04 persen, dan asam 0,04 persen.
"Komoditas penyumbang deflasi di Kota Bima, yakni angkutan udara 0,15 persen, cabai rawit 0,04 persen, bawang merah 0,03 persen, cabai merah 0,03 persen, kerudung 0,02 persen," papar Ahyar.
Lebih lanjut ia mengimbau pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi fluktuasi harga, terutama saat Ramadhan dan Lebaran, yang selalu menyebabkan peningkatan permintaan barang.
Data BPS tentang perkembangan inflasi bulan ke bulan terlihat lonjakan inflasi tinggi pada tahun 2025 terjadi di bulan Maret yang saat itu bertepatan dengan momen Ramadan dan Lebaran.
Secara inflasi tahunan, BPS mencatat laju inflasi Kota Mataram juga paling rendah di NTB hanya sebesar 3,69 persen, sedangkan Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima masing-masing mengalami inflasi tahunan sebesar 3,77 persen dan 4,82 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!