Program MBG Harus Prioritaskan Wilayah 3T
Rabu, 28 Jan 2026, 03:04 WIBJAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah agar lebih memprioritaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
âPrioritaskan wilayah 3T. Fokuskan tahap awal pada daerah rawan pangan dan kerentanan ekonomi tinggi,â kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra di Jakarta, Selasa (27/1).
Selain itu, Badan Gizi Nasional (BGN) juga harus melakukan evaluasi tata kelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mencegah terjadinya kasus keracunan makanan.
Jasra menilai perlunya BGN melibatkan kantin sekolah yang telah tersertifikasi. âCegah kontaminasi silang dengan mempertimbangkan model pemberdayaan kantin sekolah yang tersertifikasi,â kata dia.
KPAI juga menilai perlunya dilakukan survei yang melibatkan anak untuk melihat seberapa jauh anak menerima kehadiran Program MBG. âLibatkan anak dalam perencanaan menu dan survei umpan balik untuk memberikan rasa aman,â kata Jasra Putra.
Kemudian kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting untuk menjamin kualitas gizi dan higienitas. âEdukasi gizi yang komprehensif juga penting. Tanamkan pola hidup bersih dan sehat, bukan sekadar mengirim ribuan paket makanan,â kata Jasra Putra.
Selain itu, KPAI juga mengimbau agar disediakan kanal pengaduan MBG yang mudah diakses oleh masyarakat. âSediakan kanal pengaduan yang mudah diakses masyarakat dan orang tua,â kata Jasra Putra.
KPAI juga meminta pelaksanaan penyaluran program MBG dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak. âBadan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus hadir dengan pendekatan ramah anak, bukan sekadar instruksi yang melibatkan aparat keamanan,â katanya.
Dia mengatakan hal itu menanggapi pemberitaan kepala SPPG di Banyuwangi yang mengeluh kesulitan dalam meningkatkan jumlah penerima manfaat MBG di kecamatan setempat karena beberapa sekolah elite menolak menerima MBG, meski kepala SPPG itu melibatkan danramil dan kapolsek dalam menyalurkan MBG.
âDinamika di lapangan, seperti adanya narasi penolakan dari sekolah maupun anak, harus disikapi dengan pendekatan psikologis dan medis, bukan sekadar komando birokrasi,â katanya.
Rekam Medis
KPAI juga menyarankan agar BGN dan SPPG memiliki basis data berupa rekam medis Angka Kecukupan Gizi (AKG) setiap anak penerima MBG. Hal ini penting agar program MBG tidak bersifat satu ukuran untuk semua, melainkan tepat sasaran sesuai kondisi kesehatan masing-masing anak.
Pasalnya, katanya, tren kesehatan anak saat ini mengkhawatirkan. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), â15-20 persen anak usia sekolah mengalami gejala maag atau lambung akut.
Ia menjelaskan peningkatan kasus hipertensi, diabetes, dan obesitas pada usia dini akibat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih dari makanan olahan. ââJika kita punya rekam medis AKG dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga kuliah, MBG akan menjadi instrumen penyelamat generasi. Kita bisa mendeteksi dini anak yang malnutrisi, obesitas, hingga yang memiliki gangguan tiroid atau anemia,â katanya.
Per 19 Januari 2026, tercatat telah berdiri 21.102 SPPG dan menjangkau 58,3 juta penerima manfaat Program MBG dengan dana operasional harian mencapai 855 miliar rupiah. âRealisasi anggaran sampai hari ini sudah mendekati 18 triliun rupiah. Jadi 17,398 triliun rupiah itu per 16 Januari 2026. Per pagi ini sudah mendekati 18 triliun rupiah,â kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.
Program MBG dimulai pada 6 Januari 2025 dengan diawali 190 SPPG di 26 provinsi di Indonesia.
Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan menjadi penopang utama Program MBG.
âSaya diminta Presiden untuk memastikan program prioritas berjalan dengan baik di Jawa Timur. Di mana terkait soal pangan, mulai sawah, irigasi, hingga persediaan beras, telur, dan bahan pokok lainnya, apalagi menjelang puasa dan Lebaran. Tidak boleh ada kenaikan harga,â ujarnya saat meninjau KDKMP di Desa Doyomulyo, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa.
Ia menjelaskan program MBG saat ini telah menjangkau sekitar 60 juta penerima dan pada tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 82,9 juta penerima sehingga keberhasilan MBG harus ditopang rantai pasok pangan yang kuat hingga tingkat desa.
âMBG akan terkoneksi dengan KDKMP. Koperasi desa ini nantinya menyerap hasil Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pertanian, dan perikanan, sekaligus menyuplai kebutuhan Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) seperti beras, telur, dan produk UMKM,â katanya. Ant/S-2
- MBG
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
NATO Gelar Latihan Serangan Amfibi Skala Besar untuk Membebaskan Wilayah di Sayap Timur Aliansi
-
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Standar Pelayanan SPBU di Aceh Jelang Ramadan 2026
-
BPBD Tangerang Imbau Warga Cek Instalasi Listrik Secara Berkala
-
Penertiban Penjual Petasan di Malam Ramadan
-
Masyarakat Diminta untuk Lapor jika Ada Penyimpangan MBG
-
MBG Jangkau 27 Ribu SPPG dengan Serap Anggaran Rp60 Triliun
-
Selat Hormuz Memanas: Militer AS Bakal Turun Tangan Kawal Kapal Tanker
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.