MBG Jangkau 27 Ribu SPPG dengan Serap Anggaran Rp60 Triliun

Selasa, 21 Apr 2026, 03:08 WIB

JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 27 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia dengan serapan anggaran mencapai 60 triliun rupiah.

“Alhamdulillah sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia, dan hari ini sudah menyerap anggaran 60 triliun rupiah dimana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah,” ujar Dadan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (20/4).

Ket. Foto: Kepala BGN Dadan Hindayana saat memaparkan mengenai perkembangan dan dampak Program MBG dalam kegiatan retret ketua DPRD seluruh Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4/2026). — Sumber: Antara

Saat memaparkan mengenai perkembangan dan dampak Program MBG dalam kegiatan retret ketua DPRD seluruh Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4), Dadan menjelaskan latar belakang program ini berangkat dari perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi, yang perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh enam orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045, dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya, tetapi dari mana pertumbuhan itu berasal,” katanya.

Ia menyoroti masih rendahnya rata-rata lama pendidikan masyarakat Indonesia yakni hanya sembilan tahun. Hal ini menyebabkan banyak anak yang tidak bisa mengakses makan bergizi seimbang.

“Jadi anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orang tua yang pendidikannya hanya lulusan SD, sehingga, tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu bahkan tidak mampu minum susu,” paparnya.

Melalui Program MBG, pemerintah melakukan intervensi menyeluruh dengan difokuskan pada dua fase penting, yakni 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan perkembangan kecerdasan, serta fase usia sekolah yang berperan dalam pertumbuhan fisik yang optimal.

Dadan juga menekankan bahwa keberhasilan program ini diharapkan mampu menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas kecerdasan generasi mendatang.

“Kita harapkan dengan program ini stuntingnya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78. Maka, dengan hadirnya program ini, kami berharap nanti 10 hingga 15 tahun ke depan yang lahir hari ini dan akan jadi tenaga kerja produktif, itu sudah tidak stunting, serta tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang,” tuturnya.

Tepat Sasaran

Sementara itu, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pihaknya membentuk tim optimalisasi penyaluran MBG agar lebih tepat sasaran sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, yakni difokuskan kepada penerima manfaat yang membutuhkan perbaikan gizi.

Deyang dalam akun Instagram resmi @nanik_deyang yang dikutip dari Jakarta, Senin, menyampaikan pembentukan tim tersebut dilatarbelakangi kunjungan inspeksi mendadak dan investigasinya ke beberapa sekolah dan SPPG untuk memastikan perbaikan kualitas Program MBG.

“Saya seizin Kepala BGN, Pak Dadan Hindayana, kemudian membentuk tim optimalisasi untuk penyaluran MBG agar tepat sasaran, yang terdiri atas tim investigasi di bawah saya, kedeputian promosi dan kerja sama, serta kedeputian pemantauan dan pengawasan (tauwas),” ujar Nanik.

Ia menjelaskan tim optimalisasi tersebut mulai menyisir penerima manfaat di wilayah DKI Jakarta terlebih dahulu, dan nantinya bergerak ke daerah lain.

Nanik menambahkan kepada sekolah-sekolah swasta mahal akan diberitahu bahwa tidak akan diberikan MBG, sementara untuk sekolah negeri yang berada di kawasan elit, karena sifatnya heterogen, akan diberikan kuesioner yang menyatakan siapa yang mau MBG dan siapa yang tidak.

“Dengan demikian, MBG akan diberikan kepada sekolah-sekolah yang siswanya memang mau menerima dan membutuhkan. Melalui penyisiran penerima manfaat ini, BGN bisa menggunakan anggaran dengan efisien, sekaligus menghindari pemborosan uang negara, karena MBG menjadi sampah makanan (food waste) akibat tidak dimakan siswa,” paparnya. Ant/S-2

  • MBG

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.