Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

“Layer” Cukai Rokok Dinilai Perbesar Risiko Kebocoran Fiskal

📅 Rabu, 28 Jan 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
“Layer” Cukai Rokok Dinilai Perbesar Risiko Kebocoran Fiskal Doc: istimewa
Ket. Tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2026 berpotensi memperbesar kebocoran fiskal dan melemahkan keberlanjutan penerimaan negara dalam jangka menengah.

Jakarta – Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB UB) menilai rencana penambahan layer (lapisan) baru dalam struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2026 berpotensi memperbesar kebocoran fiskal dan melemahkan keberlanjutan penerimaan negara dalam jangka menengah.

Ketua PPKE FEB UB Prof. Candra Fajri Ananda menegaskan, tanpa perancangan kebijakan yang sangat hati-hati dan terintegrasi dengan pengendalian rokok ilegal, penambahan layer justru membawa risiko fiskal.

“Tanpa desain kebijakan yang sangat hati-hati (prudent) dan terintegrasi dengan pengendalian rokok ilegal justru berpotensi memperbesar kebocoran fiskal dan melemahkan keberlanjutan penerimaan CHT,” ujarnya di Jakarta, Selasa (27/1).

Ia mengungkapkan, realisasi penerimaan cukai pada 2025 tercatat 221,7 triliun rupiah, turun dari 226,4 triliun rupiah pada 2024, seiring kontraksi produksi hasil tembakau sekitar 3 persen secara tahunan.

“Fenomena ini mengindikasikan bahwa kebijakan penambahan Sigaret Kretek Mesin (SKM) Golongan 3 berisiko mendorong sistem cukai rokok semakin mendekati titik jenuh,” kata Prof. Candra.

Menurutnya, pembentukan SKM Golongan 3 dengan tarif lebih rendah berpotensi menciptakan distorsi harga dan mendorong praktik downtrading, yakni pergeseran produksi dan konsumsi dari golongan tarif lebih tinggi ke yang lebih rendah. Merujuk kajian PPKE FEB UB 2024, meskipun permintaan rokok relatif inelastis, konsumen tetap responsif terhadap perubahan struktur harga.

“Dalam konteks penambahan SKM Golongan 3, kebijakan ini berisiko tidak memperluas basis cukai, melainkan justru menggerus penerimaan dari SKM Golongan 2 yang selama ini menjadi kontributor utama,” tegasnya.

Dampak lanjutan juga berpotensi menekan kinerja Sigaret Kretek Tangan (SKT) Golongan 1.
“Penurunan harga relatif akibat hadirnya SKM Golongan 3 akan mempersempit ruang harga SKT Golongan 1, sementara karakter produksi SKT yang padat karya membatasi kemampuan produsen menyesuaikan harga,” ujarnya.

Menurut Prof. Candra, kondisi tersebut mendorong konsumen berpendapatan rendah beralih ke rokok lebih murah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.