Jembatan Gantung Cisurupan Jadi Jalur Harapan Siswa Sekolah di Garut
📅 Minggu, 25 Jan 2026, 16:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Desa Sirnajaya - Desa Cipaganti, Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat mempermudah akses pendidikan dan aktivitas warga setelah bertahun-tahun bergantung pada jalur sungai dan jalan kebun yang berisiko, terutama saat musim hujan.
Siti Rohmah, guru SDN 2 Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan merasakan langsung dampak positif pembangunan jembatan tersebut.
Guru yang telah mengabdi selama 18 tahun ini setiap hari menyeberang dari Kampung Ciburuy, Desa Cipaganti, menuju sekolah tempatnya mengajar.
“Sejak ada jembatan, alhamdulillah hampir tidak ada lagi anak-anak yang bolos sekolah. Paling yang tidak masuk mah yang sakit saja,” kata dia dalam keterangan Tim Media Presiden yang diterima di Jakarta, Minggu (25/1).
Jembatan gantung ini dibangun pada pertengahan Desember lalu dan rampung sekitar 15 hari kemudian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Warga dari dua desa yang dihubungkan jembatan ini, yakni Desa Sirnajaya dan Desa Cipaganti, bergotong royong bersama TNI dan relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI), bekerja siang dan malam hingga jembatan tersebut dapat digunakan.
Siti menuturkan bahwa sebelum jembatan dibangun, banyak murid kerap tidak masuk sekolah, terutama saat hujan turun. Mereka harus menyeberangi sungai atau melalui jalan kebun yang licin dan berbahaya, kondisi yang kerap menghambat proses belajar mengajar.
Tak jarang, guru dan murid tiba di sekolah dengan pakaian basah dan kotor setelah menyeberangi sungai. Jika memilih jalur lain, waktu tempuh bisa mencapai hampir satu jam karena kondisi jalan yang rusak dan memutar. Kini, setelah Jembatan Gantung Cisurupan terbangun, akses menuju sekolah menjadi jauh lebih mudah dan aman.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau ke sana itu nguriling (memutar). Terus harus turun juga kan. Itu jelek jalannya. Mending jalan sini aja, gitu. Lebih cepat. Dari satu jam (sebelum ada jembatan), sekarang 20 menit. Tapi ya kalau jalan kaki mah 5 menit nyampe,” kata Siti.
Tak hanya berdampak pada dunia pendidikan, jembatan gantung Cisurupan juga mempermudah akses warga menuju lahan pertanian, tempat ibadah, serta aktivitas ekonomi lainnya. Kehadiran jembatan ini membuat warga tidak lagi terisolasi saat cuaca buruk dan mobilitas sehari-hari menjadi lebih lancar.
Siti Rohmah pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada pemerintah atas pembangunan jembatan tersebut. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Terima kasih banyak. Alhamdulillah, kami dan anak-anak jadi nyaman melewati jembatan ini,” ujarnya.
Kebahagiaan serupa dirasakan Ayu Mila Karmila, siswi kelas 5 SDN 2 Sirnajaya yang merasa senang dengan selesainya pembangunan jembatan tersebut.
“Kalau dulu sebelum ada jembatan harus basah-basah. Kalau sekarang, jalan ke sekolah juga lebih cepat. Dulu kan kalau hujan enggak bisa sekolah, kalau sekarang senang tetep bisa sekolah,” kata Ayu.
Dia mengakui bahwa beberapa kali terpaksa bolos sekolah saat hujan deras mengguyur kawasan Gunung Papandayan dan air Sungai Cialit meluap.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!