BI Baca Sinyal Positif: Industri Pengolahan Mulai Naik di Akhir 2025
Senin, 19 Jan 2026, 17:55 WIBJAKARTA â Kinerja industri pengolahan pada triwulan IV-2025 tercatat meningkat tipis dibandingkan triwulan sebelumnya. Meski belum menunjukkan lonjakan besar, arah pergerakannya tetap positif.
Aktivitas produksi masih berjalan, ditopang permintaan yang relatif stabil, namun pelaku industri tampak memilih langkah hati-hati di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya longgar. Kenaikan tipis ini memberi sinyal bahwa sektor manufaktur masih bertahan, meski belum siap tancap gas.
Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja lapangan usaha (LU) industri pengolahan pada triwulan IV 2025 diindikasikan meningkat dan berada pada fase ekspansi atau dengan Prompt Manufacturing Indexâ (PMI) BI lebih dari 50 persen.
Hal ini tercermin dari PMI-BI triwulan IV 2025 sebesar 51,86 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,66 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa berdasarkan komponen pembentuknya, peningkatan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada mayoritas komponen.
Komponen dimaksud antara lain volume produksâi (53,46 persen), volume persediaan barang jadi (53,46 persen), dan volume total pesanan (53,31 persen).
Berdasarkan sublapangan usaha (sub-LU), PMI-BI pada sebagian besar sub-LU juga berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman (56,71 persen), industri barang galian bukan logam (54,33 persen), serta industri makanan dan minuman (54,06 persen).
Perkembangan tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI yang mengindikasikan kinerja kegiatan LU industri pengolahan tetap kuat dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18 persen.
Pada triwulan I 2026, kinerja LU Industri Pengolahan diprakirakan terus meningkat dan berada pada fase ekspansi, tercermin dari PMI-BI sebesar 53,17 persen.
Ekspansi terutama didorong oleh volume total pesanan (55,05 persen), volume produksi (54,82 persen), volume persediaan barang jadi (54,22 persen), dan kecepatan penerimaan barang input (50,38 persen).
Mayoritas sub-LU juga diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki (58,54 persen), industri furnitur (57,06 persen), industri logam dasar (55,45 persen), serta industri makanan dan minuman (55,23 persen).
- Industri Manufaktur
- Survei BI
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Hasil Liga Italia: AC Milan Dipermak Udinese 0-3 di San Siro
-
Turki Ultimatum Iran untuk Tidak Serang Wilayahnya
-
LPS Wanti-Wanti : Investasi Boleh Cuan, Data Pribadi Jangan Ikut Dijual
-
Lawan Serbuan Impor! Kemenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja Rp300 M di Subang, 40% Buat Ekspor
-
Meningkatnya Frekuensi Bencana dan Risiko Iklim Pengaruhi Ketahanan Sosial dan Ekonomi Nasional
-
Gerindra Rayakan Ulang Tahun ke-18 dengan Syukuran di Kompleks Parlemen
-
5 Film Menarik untuk Ditonton di Bulan Februari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.