Sektor Riil Perlu Dukungan Insentif Agar Lebih Kompetitif

Selasa, 23 Jun 2026, 00:00 WIB

Strategi yang menggabungkan penguatan kualitas SDM melalui pendidikan dengan insentif investasi dinilai mampu menciptakan efek ganda berupa peningkatan daya saing tenaga kerja sekaligus menarik investasi produktif ke dalam negeri.

JAKARTA – Dampak kebijakan moneter lebih ketat perlu dicermati karena berpotensi menekan aktivitas sektor riil melalui meningkatnya biaya pinjaman bagi dunia usaha dan rumah tangga. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) memang bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan eksternal, namun di sisi lain dapat memperlambat ekspansi investasi, konsumsi, serta penyaluran kredit.

Ket. Foto: Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda menilai kenaikan suku bunga acuan BI bertujuan menarik arus modal asing ke Indonesia dengan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik, seperti SBN dan deposito. — Sumber: antara

Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda menilai kenaikan suku bunga acuan BI bertujuan menarik arus modal asing ke Indonesia dengan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik, seperti SBN dan deposito. Kebijakan tersebut juga diperkuat dengan pembatasan pembelian valuta asing tanpa underlying aset guna menjaga permintaan terhadap rupiah.

“Untuk kompensasi masyarakat tidak beli valas, maka suku bunga tabungan ataupun deposito harusnya meningkat,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/6).

Menurutnya, langkah BI merupakan bagian dari tren global di mana banyak bank sentral menaikkan suku bunga untuk menarik investor dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan ekonomi internasional. Dia menegaskan, intervensi moneter tersebut dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai kenaikan suku bunga efektif menahan aliran modal keluar hanya dalam jangka pendek, tetapi menimbulkan biaya ekonomi yang lebih tinggi sehingga tidak dapat menjadi solusi permanen. Menurutnya, upaya menjaga arus modal jangka panjang harus dilakukan dengan menarik investasi ke sektor riil yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian.

“Investor bangun investasi di sektor riil di Indonesia sehingga tidak hanya aliran modal yang masuk dan besar, melainkan juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Strategi Gabungan

Esther juga mengusulkan strategi yang menggabungkan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dengan pemberian insentif investasi bagi negara atau pihak yang berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. “Sehingga sekali dayung, peningkatan kualitas SDM terjadi dan investasi pun mengalir deras ke Indonesia,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur BI pada 18 Juni lalu memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen. Sebelumnya, Hal itu menyusul kenaikan yang dilakukan pada 9 Juni lalu sebesar 25 bps dan pada 20 Mei lalu sebesar 50 bps.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan kenaikan suku bunga acuan merupakan langkah lanjutan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap dampak konflik geopolitik, potensi kenaikan suku bunga global, tingginya imbal hasil aset keuangan AS, serta kecenderungan investor mengalihkan dana ke aset aman.

Menurut Perry, penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran diperlukan untuk menjaga ketahanan eksternal, mengendalikan inflasi sesuai target, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi dunia.

Peneliti ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet menegaskan suku bunga acuan memengaruhi seluruh biaya dana dalam perekonomian, mulai dari kredit korporasi, KPR, hingga keputusan investasi. Karena itu, kenaikan suku bunga harus dilakukan secara bertahap dan terukur agar tidak menekan aktivitas ekonomi secara berlebihan.

Dia menjelaskan pendekatan penyesuaian bertahap memungkinkan BI mengevaluasi dampaknya terhadap kredit, arus modal, dan nilai tukar, sehingga keseimbangan antara menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan tetap terjaga.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.