Amerika Serikat dan Iran Capai Kemajuan Pembicaraan

Selasa, 23 Jun 2026, 01:00 WIB

BURGENSTOCK, Swiss – Utusan senior Iran dilaporkan meninggalkan perundingan di Swiss pada Senin (22/6) setelah sesi negosiasi panjang dengan Amerika Serikat (AS), menurut media pemerintah Iran. Meski demikian, para mediator menilai pembicaraan tersebut tetap mencatat kemajuan menuju kerangka kesepakatan jangka panjang antara kedua pihak.

Negara tuan rumah menyebut bahwa pertemuan telah menghasilkan kondisi awal untuk dilanjutkannya pembahasan teknis dalam waktu dekat. Kedua pihak juga disebut memasuki periode 60 hari untuk mencapai kesepakatan final terkait sejumlah isu utama.

Ket. Foto: Bendera Swiss, Amerika Serikat, Qatar, Pakistan, dan kanton lokal Swiss Nidwalden difoto di kompleks hotel mewah Burgenstock yang menghadap Danau Lucerne, Swiss, Minggu (21/6). — Sumber: AFP/Fabrice COFFRINI

Pekan sebelumnya, Teheran dan Washington telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar negosiasi lanjutan setelah konflik selama 40 hari yang diikuti gencatan senjata rapuh dan kerap dilanggar.

Fokus utama perundingan mencakup isu sensitif yang telah lama membayangi hubungan kedua negara, termasuk program nuklir Iran dan pengayaan uranium.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa pada sesi awal Senin hanya berlangsung diskusi singkat tanpa pembahasan teknis mendalam.

"diskusi yang sangat singkat telah berlangsung mengenai masalah nuklir, tetapi tidak ada diskusi detail" ujarnya, seraya menegaskan bahwa pembicaraan substantif belum dimulai.

Di sisi lain, dinamika kawasan turut memengaruhi jalannya diplomasi, terutama konflik di Lebanon antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran. Ketegangan ini masih berpotensi mengganggu stabilitas meski situasi relatif tenang sejak Minggu.

Para pemimpin Israel tetap menyatakan keberatan terhadap kesepakatan yang tengah dirundingkan dan menegaskan akan mempertahankan kehadiran militer di Lebanon selatan.

Sementara itu, mediator menyebut AS dan Iran mulai membangun jalur komunikasi tidak langsung untuk meredakan ketegangan regional, termasuk menjaga stabilitas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Iran sebelumnya disebut sempat menutup Selat Hormuz pada fase awal konflik, memicu gejolak di pasar energi global. Dalam kerangka kesepakatan yang dibahas, Teheran disebut berpotensi memperoleh keringanan sanksi serta akses terhadap sejumlah aset yang dibekukan.

Mediator dari Pakistan dan Qatar menyebut telah disepakati “peta jalan menuju tercapainya kesepakatan akhir dalam 60 hari”, dengan pembahasan teknis dilanjutkan di Swiss sepanjang pekan ini.

“Kemajuan yang menggembirakan telah dicapai termasuk pembentukan mekanisme untuk pembicaraan teknis lebih lanjut,” demikian pernyataan bersama mediator, yang juga menyebut adanya saluran komunikasi untuk mencegah miskomunikasi di kawasan tersebut.

Mereka juga mengonfirmasi pembentukan “sel de-konflik” untuk mencegah eskalasi, termasuk di Lebanon.

  • Perjanjian Damai

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.