Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pelajaran Grooming dari Sebuah Catatan Broken Strings

📅 Minggu, 18 Jan 2026, 03:14 WIB | Oleh: Tim Penulis

Memoar ini juga penting karena menolak narasi menyalahkan korban. Aurelie secara konsisten menunjukkan bagaimana korban kerap dibebani rasa bersalah, sementara pelaku berlindung di balik legitimasi sosial.

Narasi semacam ini masih sering muncul dalam diskursus publik, termasuk ketika kasus-kasus di NTB mencuat dan memicu perdebatan antara menjaga nama baik institusi atau memulihkan korban.

Kebijakan perlindungan

Membaca Broken Strings tidak berhenti pada empati, tetapi perlu ditarik ke wilayah kebijakan dan pelayanan publik.

NTB telah menunjukkan komitmen melalui penguatan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, serta deklarasi ruang aman bagi perempuan dan anak. Langkah ini penting, tetapi belum cukup jika tidak menyentuh akar masalah.

Memoar Aurelie menegaskan bahwa pemulihan korban adalah proses panjang. Trauma tidak selesai dengan proses hukum. Ia membutuhkan layanan psikologis yang berkelanjutan, dukungan keluarga, serta jaminan bahwa korban tidak kembali ke lingkungan yang sama berisikonya.

Di NTB, tantangan masih terlihat pada keterbatasan layanan pemulihan di tingkat desa dan kecamatan, serta belum meratanya literasi tentang kekerasan berbasis gender.

Di sisi pencegahan, kisah dalam Broken Strings memberi pelajaran tentang pentingnya pendidikan relasi sehat sejak dini. Grooming sering lolos karena korban tidak memiliki kerangka untuk mengenali batas.

Pendidikan ini bukan semata urusan sekolah, tetapi juga keluarga, lembaga keagamaan, dan komunitas. Pengawasan terhadap lembaga pendidikan berasrama perlu diperkuat, bukan untuk mencurigai, tetapi memastikan standar perlindungan anak berjalan.

Buku ini juga relevan dengan tantangan kekerasan berbasis gender di era digital. Meski fokus pada relasi langsung, pola manipulasi yang digambarkan Aurelie serupa dengan yang kini terjadi secara daring.

Literasi digital, yang mulai digencarkan di NTB, perlu diposisikan sebagai bagian dari perlindungan perempuan, bukan sekadar keterampilan teknis.

Broken Strings mengajarkan bahwa keberanian korban untuk bersuara adalah awal perubahan. Namun, keberanian itu harus disambut oleh sistem yang adil dan responsif.

Negara hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai pelindung yang memastikan setiap perempuan dan anak memiliki ruang aman untuk tumbuh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Momentum Perkuat Wisata Dal...
Nasional
Pesparawi Nasional XIV Diik...

Burnham Tantang Starmer Perebutkan Kursi PM

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Burnham Tantang Starmer Per...
Luar Negeri
Jerman Sepakat Kembangkan B...

Bolivia Umumkan Keadaan Darurat

2 jam lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Bolivia Umumkan Keadaan Dar...
Luar Negeri
Utusan PBB Serukan Pembebas...
Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.