Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Niat Baik Bansos, Antara Menjaga Martabat atau Jadi Ketergantungan Masyarakat

📅 Rabu, 14 Jan 2026, 17:22 WIB | Oleh:

Tanpa desain yang mendorong peralihan, bantuan berisiko mengubah ketergantungan menjadi gaya hidup.

Dan apakah bantuan yang diterima hari ini masih menjadi penopang, atau sudah berubah menjadi sandaran? Ini penting dijawab bersama, sebelum kebiasaan menunggu kian mengakar dan martabat perlahan memudar.

20260114171750_IMG-20251127-WA0007.jpeg

Ilustrasi penerima bansos pangan. (Antara/Mansyur Suryana)

Menjaga martabat

Pembicaraan tentang bansos perlu diarahkan ke satu tujuan yang lebih besar: menjaga martabat masyarakat. Sebab martabat bukan konsep abstrak. Ia hidup dalam cara seseorang memandang dirinya, dalam keberanian mengambil keputusan, dan dalam keyakinan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh belas kasih pihak lain.

Pemerintah, melalui berbagai program bantuan, sesungguhnya memiliki peran strategis untuk menjaga martabat itu. Bansos adalah wujud kehadiran negara yang tidak abai, sebuah pengakuan bahwa tidak semua warga memulai dari garis yang sama.

Agar martabat tetap tegak, bantuan perlu dirancang bukan hanya untuk meringankan beban, tetapi juga untuk menguatkan daya berdiri.

Di sinilah pentingnya menggeser orientasi dari sekadar memberi menjadi memberdayakan. Bantuan yang disertai edukasi, pendampingan, dan batas waktu yang jelas akan mengirim pesan berbeda kepada masyarakat.

Bahwa negara hadir sebagai penopang sementara, bukan sebagai sandaran permanen. Bahwa warga dipercaya mampu melangkah, bukan diasumsikan harus terus dituntun.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pendekatan kapabilitas yang diperkenalkan ekonom Amartya Sen, yang menekankan bahwa pembangunan sejatinya adalah soal memperluas kemampuan manusia untuk memilih dan menjalani hidup yang mereka nilai bermakna.

Dalam konteks bansos, artinya bantuan seharusnya membuka pilihan, bukan mengunci warga dalam posisi penerima abadi.

Gaya hidup masyarakat pun ikut dipertaruhkan. Ketika bantuan didesain untuk menguatkan kapasitas, yang tumbuh adalah kebiasaan berusaha dan rasa percaya diri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.