Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Rial, Warga Iran Lebih Nyaman Bertransaksi dengan Sebutan Toman

📅 Rabu, 14 Jan 2026, 19:03 WIB | Oleh:
Bukan Rial, Warga Iran Lebih Nyaman Bertransaksi dengan Sebutan Toman Doc: AFP

JAKARTA - Mata uang Iran belakangan menjadi sorotan dunia seiring memanasnya tensi geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan langkah tegas dengan memberlakukan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran.

Kebijakan ini memicu berbagai reaksi, terutama pada kondisi ekonomi Iran, termasuk melemahnya nilai tukar mata uang nasionalnya. Dalam catatan terbaru, nilai tukar mata uang Iran, yaitu rial, bahkan sempat disebut menyentuh level terendah jika dikonversikan ke euro. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan berat yang dialami perekonomian Iran akibat sanksi dan inflasi berkepanjangan.

Namun menariknya, jika Anda berkunjung langsung ke pasar tradisional atau menyusuri pusat perbelanjaan di Iran, istilah “rial” nyaris tak terdengar dalam percakapan transaksi sehari-hari. Masyarakat setempat justru lebih akrab menggunakan sebutan “toman” saat menyebut harga barang atau jasa.

Fenomena ini tidak terlepas dari tingkat inflasi yang sangat tinggi. Untuk mempermudah penyebutan harga dan menghindari angka yang terlalu besar, Iran menerapkan sistem hitung alternatif berupa toman.

Lantas, seperti apa sebenarnya mata uang resmi yang berlaku di Iran, dan apa perbedaan mendasar antara rial dan toman yang sering membingungkan wisatawan maupun pengamat ekonomi internasional? Berikut ulasan lengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Mata Uang Resmi

Secara hukum dan administratif, Iran menetapkan rial sebagai mata uang resminya. Seluruh aktivitas perbankan, dokumen pemerintahan, hingga pencantuman harga di pusat perbelanjaan modern menggunakan satuan rial dengan kode internasional IRR.

Apa Bedanya Rial dan Toman?

Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Iran nyaris tidak pernah menyebut istilah “rial” saat bertransaksi. Mereka lebih terbiasa menggunakan sebutan “toman” dalam percakapan jual beli, baik di pasar tradisional maupun toko-toko kecil.

Pada praktiknya, satu toman memiliki nilai yang jauh lebih sederhana untuk disebutkan. Satu toman setara dengan 10.000 rial atau dapat dipahami sebagai rial yang dipangkas empat angka nol. Sistem ini memudahkan masyarakat dalam menyebut harga tanpa harus menggunakan deretan angka yang terlalu panjang, meskipun secara resmi rial tetap menjadi mata uang negara.

Secara historis dan yuridis, rial merupakan mata uang sah yang tercetak pada uang kertas serta digunakan dalam seluruh dokumen keuangan. Namun, akibat inflasi yang terus menekan nilai tukar rial, masyarakat memilih cara praktis dengan melakukan penyederhanaan penyebutan nilai melalui toman. Rumus dasarnya cukup sederhana: satu toman bernilai sepuluh rial lama.

Artinya, jika seorang pedagang menyebut harga barang sebesar 60.000 toman, maka nilai yang harus dibayarkan sebenarnya adalah 600.000 rial. Perbedaan penyebutan inilah yang kerap membuat wisatawan asing kebingungan saat pertama kali berkunjung ke Iran.

Guna mengakhiri kebingungan yang telah berlangsung lama sekaligus menyederhanakan sistem keuangan nasional, Pemerintah Iran melalui Bank Sentral Iran (Central Bank of Iran/CBI) mulai menggulirkan kebijakan redenominasi sejak 2020. Proses ini kemudian dijalankan secara lebih luas dan bertahap pada periode 2025 hingga 2026.

Melalui kebijakan tersebut, Iran secara resmi mengganti satuan mata uang utamanya dari rial menjadi toman versi baru dengan memangkas empat angka nol. Dengan skema ini, 10.000 rial lama kini disetarakan dengan 1 toman baru. Mata uang baru tersebut juga dibagi ke dalam pecahan yang lebih kecil bernama qiran, di mana satu toman terdiri atas 100 qiran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.