Jelang Data Inflasi AS, IHSG Hari Ini Terancam Kembali Terkoreksi
Kamis, 18 Des 2025, 01:00 WIBJAKARTA â Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali terkoreksi dalam perdagangan, hari ini (18/12), mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Data tersebut dinilai krusial bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ketidakpastian tersebut mendorong investor menahan aksi beli dan cenderung melakukan penyesuaian portofolio, terutama pada saham-saham berisiko. Ekspektasi kebijakan moneter AS yang tetap ketat berpotensi memperkuat dolar dan menekan arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat IHSG masih rawan melanjutkan koreksi, seiring sentimen global dari rilis data inflasi AS. Karenanya, dia memproyeksikan IHSG dalam perdagangan, Kamis (18/12), bergerak dengan level support di 8.635 dan resistance di 8.709.
Sebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam perdagangan, Rabu (17/12), ditutup melemah 9,12 poin atau 0,11 persen dari sehari sebelumnya ke level 8.677,35. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga ditutup turun 1,75 poin atau 0,21 persen ke posisi 852,57.
âPergerakan IHSG cenderung sideways dengan rentang yang sempit, seiring sikap pelaku pasar yang masih mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya,â kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam keterangannya di Jakarta.
Seperti telah diperkirakan pasar, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), BI kembali menahan BI Rate di level 4,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility dipertahankan di level 5,5 persen.
Keputusan tersebut diambil sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk mendorong perekonomian nasional.
"Meskipun demikian BI masih membuka peluang penurunan suku bunga ke depannya dengan mencermati data inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi," ujar Ratna.
Dari sisi fundamental domestik, data menunjukkan pertumbuhan kredit berakselerasi menjadi 7,74 persen secara tahunan (year on year/ yoy) pada November 2025, meningkat dari 7,36 persen pada Oktober 2025. Capaian ini menjadi pertumbuhan kredit tercepat sejak Juni, di tengah adanya paket stimulus pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat.
Meski begitu, Ratna menyoroti masih tingginya undisbursed loan yang mencapai 2.509,4 triliun rupiah pada November 2025, atau setara 23,18 persen dari total kredit yang telah disetujui. Selain itu, meski BI Rate telah turun sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, penurunan suku bunga kredit perbankan relatif lambat, hanya turun 24 basis poin dari 9,2 persen pada awal 2025 menjadi 8,96 persen pada November 2025.
Dari sisi aktivitas perdagangan, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.718.075 kali, dengan volume perdagangan mencapai 54,6 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar 37,75 triliun rupiah. Sebanyak 379 saham menguat, 284 saham melemah, dan 140 saham stagnan.
- Ihsg hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Kekeringan, Warga Banjarmasin Antre Demi Air Bersih Bantuan Dinsos Kalsel
-
Menkomdigi Sebut Tanggung Jawab jadi Kunci Keberhasilan Inovasi Digital
-
Harga Cabai Bikin Waswas, Pemkab Bogor Gerak Cepat Tanam Cabai Serentak
-
Review Lioness Season 3 Episode 7: Dendam Perwira CIA pada Para Penculiknya hingga Intrik Washington
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Rp96.050 per Kg, Telur Ayam Rp29.900 per Kg
-
Pelaku Pasar Perkirakan The Fed Akan Menaikkan Suku Bunga Acuan
-
Ayo Kerja di Bali! Pemkab Gianyar Gelar Job Fair 21-22 September, Tersedia 951 Lowongan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.