IHSG Hari Ini Tersandung di Akhir Perdagangan, Turun ke Level 8.649

Senin, 15 Des 2025, 17:42 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di awal pekan dipicu sikap hati-hati pelaku pasar di tengah tekanan sentimen eksternal dan aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter global serta fluktuasi nilai tukar mendorong investor menahan ekspansi risiko, sehingga tekanan jual muncul secara selektif.

Ket. Foto: Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A

Meski koreksi relatif terbatas, pergerakan ini menunjukkan pasar masih rentan terhadap perubahan ekspektasi global dan membutuhkan katalis baru untuk kembali menguat secara berkelanjutan.

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan, Senin (15/12) sore, ditutup melemah 10,83 poin atau 0,13 persen dari akhir pekan lalu menjadi 8.649,66.

Pergerakan IHSG berlangsung fluktuatif, sempat berada di teritori negatif pada awal sesi sebelum menguat, namun kembali melemah hingga penutupan. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 justru ditutup menguat 4,5 poin atau 0,53 persen ke posisi 852,86.

Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pelemahan IHSG terjadi di tengah rotasi pilihan saham investor dari saham konglomerasi ke saham-saham blue chip, terutama sektor perbankan, yang sempat mendorong IHSG bergerak di zona positif.

Meski demikian, tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar rupiah menahan penguatan lanjutan.

"Rupiah ditutup melemah di Rp16,667/ dolar AS di pasar spot (15/12). Saham sektor energi mencatatkan pelemahan terbesar, sedangkan saham sektor kesehatan membukukan penguatan terbesar," ujarnya.

Ratna memproyeksikan IHSG ke depan akan bergerak cenderung sideways di kisaran 8.600-8.750, seiring pelaku pasar masih mencermati sentimen global dan domestik.

Dari kawasan Asia, mayoritas indeks bursa ditutup melemah seiring perhatian investor terhadap data ekonomi Tiongkok.

Data industrial production Tiongkok pada November tercatat melambat menjadi 4,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari 4,9 persen yoy pada Oktober 2025, serta berada di bawah perkiraan 5,4 persen yoy.

Pertumbuhan penjualan ritel Tiongkok juga melambat menjadi 1,3 persen yoy dari 2,9 persen yoy pada bulan sebelumnya, dan lebih rendah dari perkiraan 3,3 persen yoy.

Capaian tersebut menjadi pertumbuhan penjualan ritel Tiongkok paling lambat sejak Desember 2022, meskipun program stimulus pemerintah masih berlanjut.

Sementara dari Jepang, indeks Tankan kuartal IV-2025 menunjukkan optimisme bisnis di kalangan produsen besar meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Adapun pada perdagangan Senin, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar, antara lain PPRE, ERTX, DGIK, CSIS, dan KOKA. Sementara, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BUVA, HDIT, ENRG, KIJA, dan TRIN.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 3.595.182 kali transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 58,48 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp33,49 triliun. Sebanyak 340 saham menguat, 329 saham melemah, dan 132 saham tidak bergerak.

  • Ihsg hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.