Punya Keunggulan, RI Harus Naikan Positioning Saat Bernegosiasi dengan AS!

Jumat, 12 Des 2025, 06:30 WIB

JAKARTA-Pemerintah harus menaikan positioning saat melakukan negosiasi tarif dengan AS. RI punya keunggulan komparatif sebab produk ekspor RI ke AS bukan pesaing industri domestik AS

 Demikian diungkapkan Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko saat merespon pernyataan Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer yang akan segera berbicara dengan pejabat Indonesia pada Kamis ini untuk membahas kemajuan kesepakatan dagang bilateral.

Ket. Foto: Tim Negosiasi RI (kanan) saat bertemu dengan perwakilan AS di Washington, D.C. beberapa waktu lalu — Sumber: istimewa

Suhartoko mengatakan, dampak tarif Donald Trump sebenarnya bukan saja merugikan negara eksportir ke AS, namun juga bagi AS sendiri. Inilah sebenarnya yang membuka ruang negosiasi. 

Ekspor Indonesia ke AS sebagian besar bukan kompetitor industri domestik AS, bahkan ada barang konsumsi dan bahan baku. "Tarif ini tentu saja akan mendorong kenaikan harga baik di tingkat produsen maupun konsumen di AS, inilah yg mendorong meningkatnya inflasi di AS,"papar Suhartoko pada Koran Jakarta, Jumat (12/12).

Dia menjelaskan, inilah seharusnya menjadi dasar negosiasi dan diskusi yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak. 

Dalam menegosiasi, Pemerintah Indonesia tidak boleh merasa berada pada posisi lemah, namun harus merasa setara dan menganggap punya keunggulan. "Ke depannya positioning Indonesia terhadap AS harus ditingkatkan,"tandas dia

Lebih dari itu Indonesia jangan bergantung pada satu negara saja. Perlu memperluas pasar tujuan ekspor dan diversifikasi produk ekspor. Kemudian pula harus mendorong efisiensi produk ekspor, sebab itu akan menambah daya saing dalam harga.

Peneliti Ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan pernyataan Jamieson menunjukkan bahwa Amerika Serikat menempatkan hubungan dagang dengan Indonesia sebagai salah satu agenda yang ingin diprioritaskan. 

Dorongan untuk segera menyelesaikan kesepakatan mencerminkan adanya kepentingan strategis dari pihak AS, baik terkait akses pasar maupun konsolidasi kebijakan perdagangan mereka. "Dari perspektif Indonesia, momentum ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat posisi dalam negosiasi,"ungkapnya

Namun terang Rendi, pendekatan seperti ini tetap perlu disikapi dengan kewaspadaan. Biasanya percepatan yang diminta oleh mitra besar seperti AS datang bersama tuntutan penyesuaian regulasi atau pembukaan pasar yang bisa memberi tekanan pada industri tertentu di dalam negeri. 

"Jika detail kesepakatan tidak diatur dengan cermat, manfaat jangka pendek bisa saja mengorbankan kepentingan jangka panjang, terutama bagi sektor-sektor yang masih membutuhkan perlindungan atau penguatan,"ungkap dia

Di sisi lain, potensi manfaat tetap signifikan. Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor, menarik investasi, dan memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Namun manfaat tersebut akan optimal hanya jika kesepakatan diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dan daya saing nasional, bukan semata membuka pasar.

 Bahas progres negosiasi tarif

Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer menyatakan bahwa ia akan segera berbicara dengan pejabat Indonesia pada Kamis ini untuk membahas kemajuan kesepakatan dagang bilateral.

"Saya akan menggelar pembicaraan dengan mitra di Indonesia besok pagi ... untuk membicarakan perkembangan. Anda tahu, saya ingin melihat kesepakatan ini selesai," kata Greer di sebuah diskusi daring bersama wadah pemikir Dewan Atlantik, Rabu (10/12)

"Saya pikir hal tersebut sesuai dengan kepentingan mereka, begitu pula dengan kami," ucap USTR dalam diskusi yang membahas setahun kebijakan perdagangan global AS di bawah Presiden Donald Trump itu.

Ia meyakini bahwa Indonesia dapat menyusul Malaysia dan Kamboja, dua negara yang sebelumnya telah menandatangani kesepakatan dagang dengan AS di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, Oktober lalu.

"Saya ingin melihat Indonesia ada di posisi yang sama. Saya pikir negara tersebut adalah pasar ekspor yang bagus. Ada sejumlah hal ... dari Indonesia yang kami inginkan," kata USTR.

Pejabat AS itu juga berkata bahwa diskusi dengan pihak Indonesia terikat dengan kesepakatan kerahasiaan.

Tidak ada perkembangan

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mengatakan, negosiasi dagang indonesia dengan AS terbilang cukup memakan waktu yang panjang. Dibanding Malaysia, jauh lebih cepat sehingga banyak manfaat bagi pelaku usaha Malaysia dibanding Indonesia terutama di sektor sawit. 

Persoalan terletak pada tim negosiasi yang serba tanggung. Menko perekonomian cukup lemah memimpin negosiasi. Kalau pemerintah tidak niat ya tinggalkan AS dan beralih ke Uni Eropa yang sudah punya kesepakatan IEU Cepa atau Kanada yang juga punya kerjasama serupa dengan indonesia. 

"Posisi Indonesia yang maju mundur membuat energi untuk negosiasi terkuras. Padahal banyak peluang penting untuk diversifikasi negara tujuan ekspor,"tandas Bhima

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.