Ancaman Siber Berbasis AI Naik Tajam pada 2026, Indonesia Harus Siap Hadapi Gelombang Baru Serangan Digital
📅 Kamis, 11 Des 2025, 18:20 WIB | Oleh: Haryo BronoRashish menjelaskan bahwa ancaman 2026 tidak hanya datang dari aktor kriminal semata, tetapi juga dari berkembangnya pasar gelap berbasis AI melalui model cybercrime-as-a-service. Dengan harga terjangkau, pelaku dapat membeli paket serangan otomatis yang mampu meniru percakapan manusia, menciptakan phishing canggih, atau melakukan serangan paralel ke jaringan pemerintah.
Paket-paket ini bahkan menyediakan dukungan teknis, peningkatan fitur, dan pembaruan otomatis layaknya perangkat lunak legal. Fenomena ini membuat siapa pun dapat menjadi pelaku serangan, termasuk individu tanpa kemampuan teknis.
Dalam konteks ketahanan nasional, Edwin menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pendekatan menyeluruh untuk memperkuat keamanan siber, meliputi teknologi, proses, regulasi, serta kesiapan sumber daya manusia.
Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan regulasi keamanan semakin diperkuat, mulai dari penerapan standar keamanan wajib untuk instansi publik hingga kebijakan perlindungan data yang ketat.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dengan meningkatnya ancaman berbasis AI, lembaga pemerintah harus memastikan bahwa seluruh sistem digital yang digunakan memiliki pengamanan end-to-end, tidak lagi terpisah-pisah,” lanjut Edwin.
Sementar aitu Rashish juga menyoroti pentingnya strategi jangka panjang dalam membangun kapasitas sumber daya manusia nasional. Fortinet melalui Fortinet Training Institute dan program Fortinet Academy telah bekerja sama dengan berbagai universitas di Indonesia seperti UGM, ITS, UNDIP, dan Universitas Negeri Gorontalo untuk menyediakan laboratorium, materi pelatihan, serta voucher sertifikasi bagi mahasiswa.
“Langkah ini bertujuan membangun generasi baru talenta siber yang mampu mengoperasikan sistem keamanan modern, terutama menghadapi ancaman berbasis AI yang diprediksi akan mendominasi serangan global,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Edwin percaya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan siber nasional jika sektor pemerintah, industri, dan pendidikan bergerak secara kolaboratif. Menurutnya, Indonesia memiliki tenaga teknis yang adaptif dan cepat belajar, sehingga percepatan kesiapan siber sangat mungkin terjadi.
Namun, ia menegaskan bahwa waktu terus berjalan dan ancaman bergerak lebih cepat daripada kemampuan organisasi dalam memperbarui pertahanan mereka. Dengan ancaman AI yang semakin canggih, pendekatan keamanan tradisional tidak lagi memadai.
Fortinet menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi Indonesia. Keberhasilan transformasi digital nasional sangat bergantung pada kemampuan negara membangun pertahanan yang kuat, terintegrasi, dan berbasis AI.
“Hanya dengan pendekatan yang menyeluruh inilah Indonesia dapat menjaga stabilitas nasional, melindungi layanan publik, dan memastikan keamanan bagi seluruh masyarakat di tengah lanskap ancaman yang terus berkembang,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!