Lokakarya PearFest 2025 Dorong Penulis Muda Temukan Suara dan Identitas Kepenulisan
📅 Rabu, 10 Des 2025, 20:38 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: PearFest 2025
JAKARTA - PearFest 2025 mengundang 14 peserta dari 10 kota di Indonesia untuk duduk bersama dalam sebuah lokakarya bertajuk PearWorkshop x MTN Lab: Name Your Book, Shape Your Voice yang diadakan di Melting Pop, MBloc Space, Blok M, Jakarta Selatan pada hari Senin, (8/12). Lokakarya ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, lewat kolaborasi bersama Pear Press.
Sedikit latar belakang, Pear Press adalah sebuah ekosistem penerbitan milik PT Simpul Aksara Grup, sebuah creative agency yang berbasis di Jakarta dan berdiri sejak 2019 silam. Tahun ini menandai penyelenggaraan PearFest yang ketiga sebagai festival literasi tahunan milik Pear Press, sejak pertama kali digelar pada 2023.
Sesi lokakarya ini merupakan bagian dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, sebuah program prioritas nasional yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan Indonesia. Program ini adalah bentuk komitmen nasional untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni dan budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
Melalui MTN Lab di PearFest 2025, para talenta sastra mendapatkan ruang penciptaan dan pengembangan karya melalui lokakarya yang mendukung proses kreatif secara menyeluruh. Program ini tidak sekadar ingin membuka akses yang lebih luas kepada para penulis dari berbagai daerah Indonesia untuk bisa mengembangkan diri, akan tetapi juga menyiapkan trajektori yang berkelanjutan untuk pengembangan karier sebagai penulis.
“Kolaborasi MTN Seni Budaya bersama PearFest ini adalah langkah penting sebagai pintu masuk para penulis dari berbagai daerah ke dalam industri perbukuan nasional,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, melalui siaran pers pada hari Rabu (10/12)/
Sebaiknya Anda baca juga:
Talenta sastra yang diundang dipilih oleh Pear Press melalui kurasi internal dari daftar panjang submisi Emerging Writers di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Makassar International Writers Festival 2025, dan Sayembara Novel DKJ 2025.
Lokakarya ini mengajak para penulis muda untuk memahami bagaimana suara itu dapat dibentuk menjadi sesuatu yang khas dan bertahan lama, mulai dari cerita yang ingin disampaikan hingga bagaimana karya tersebut diposisikan dan dihadirkan kepada penerbit dan pembaca.
General Manager Pear Press, Namira Daufina menuturkan di era sekarang, memiliki cerita yang kuat adalah satu hal tapi setiap penulis harus membangun citra dan branding-nya. Tidak hanya untuk bukunya tapi juga dirinya sebagai penulis.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Industri buku hari ini memberikan pilihan yang luas, tak terbatas, dan persaingan bukan lagi di mana posisi buku kita berada di rak toko tapi bagaimana kita mendapat tempat di media sosial dan menggaet perhatian pembaca serta penerbit yang dihadapkan oleh sejuta pilihan lainnya,” ucapnya.
Untuk memperkaya sesi lokakarya ini, Pear Press juga mengundang pemateri antara lain Christina M. Udiani - Editorial & Production Manager Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) untuk memberikan pemaparan tentang buku yang seperti apa yang menarik dan stand out di mata penerbit.
Kemudian ada Felix K. Nesi - Penulis & Scriptwriter yang berbagi pengalamannya dalam menyiapkan naskah premis yang kuat, menemukan suaranya, hingga membuat pitch mempromosikan dirinya kepada pembaca dan penerbit.
Sesi tersebut dipandu oleh Nathalie Indry, yang merupakan seorang penyiar radio, MC, dan juga pegiat literasi, juga memberikan kesempatan pada peserta untuk berproses dengan kertas kerjanya yang kemudian akan di-review singkat oleh perwakilan penerbit dan peserta langsung mendapatkan umpan balik dari perwakilan penerbit yakni Novka Kuaranita - Wakil Manajer Penerbit Buku Kompas, Ardhias Nauvaly - Editor Bentang Pustaka, dan Rae Fadillah - Editor Warning Books.
Menurut Felix Nesi, sebagai seorang penulis kita juga perlu mencari tahu dan memetakan dengan tepat penerbit mana yang cocok dengan naskah kita. Ia menyarankan untuk mempelajari dan mencari tahu tentang apa yang dicari oleh penerbit dimaksud dan bagian mana dari cerita yang paling cocok atau bisa menarik.
“Pelajari dan cari tahu tentang apa yang dicari oleh penerbit tersebut dan bagian mana dari cerita kita yang paling cocok atau bisa menarik perhatian penerbit tersebut. Targeting dan penyesuaian itu sama pentingnya, agar naskah berhasil menembus meja redaksi,” kata Felix K. Nesi, Penulis & Scriptwriter.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!