Dongeng Jadi Obat: Komdigi Redam Trauma Anak Korban Bencana Lewat Cerita
📅 Sabtu, 06 Des 2025, 22:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Humas Komdigi
JAKARTA – Anak-anak selalu menjadi kelompok paling rentan ketika bencana datang. Banjir dan longsor bukan hanya menggeser rumah-rumah mereka, tetapi juga mengguncang rasa aman yang selama ini menjadi pondasi dunia kecil mereka.
Mereka mungkin tidak selalu mengerti apa yang terjadi, tetapi tubuh dan pikirannya menyimpan jejak ketakutan: suara hujan yang terlalu deras bisa membuat mereka gelisah, sirene ambulans membuatnya memeluk orang tua lebih kencang, dan malam terasa lebih panjang karena mimpi buruk yang datang tanpa diundang.
Pemulihan psikososial menjadi penting bukan hanya untuk menenangkan hati mereka, tetapi untuk memulihkan rutinitas dan kebahagiaan yang sempat hilang.
Kegiatan bermain, kelas menggambar, hingga sesi bercerita di tenda darurat dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan rasa takut dan kebingungan.
Di sinilah peran relawan, guru, dan orang tua menjadi sangat vital—bukan untuk menghapus ingatan buruk secara instan, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat rumah sedang diperbaiki dan jalan sedang dibersihkan, pemulihan psikososial membantu membangun kembali bagian paling rapuh dari kehidupan anak-anak: keberanian.
Karena ketika mereka bisa kembali tertawa, bermain, dan merasa aman, proses pemulihan pascabencana benar-benar mulai berjalan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membantu pemulihan kondisi psikososial anak-anak yang menjadi korban banjir dan longsor di Sumatra Barat (Sumbar).
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui sesi mendongeng, anak-anak diajak mengurangi rasa trauma akibat bencana sekaligus diperkenalkan kembali pada dunia literasi.
Aktivis Anak Maia Janitra mengatakan bahwa mendongeng menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembalikan semangat anak-anak setelah bencana, terutama di tengah tingginya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari serta dianggap kegiatan itu jauh lebih baik dan efektif membiarkan anak bermain gawai sepanjang hari.
“Mendongeng mengajak anak lebih mengenal dunia melalui cerita. Di dalam dongeng kita bisa menyampaikan pesan moral yang mudah dipahami anak. Mereka menjadi lebih tenang dan lebih mampu mengelola emosi. Ini berbeda dengan gawai yang membuat mereka larut dalam dunia mereka sendiri,” ujar Maia dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (6/12).
Maia saat mengisi Program Mobil Dukungan Psikososial oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemomdigi) di lokasi pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudra, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang, juga menambahkan bahwa interaksi langsung saat bercerita membantu pendamping memahami cara berpikir anak dan memperkuat hubungan emosional.
Dihadiri sekitar 120 anak yang terdampak bencana di Sumbar, ia pun membagikan pengalaman sebelum-sebelumnya saat mendampingi anak-anak korban banjir.
Ia mengatakan anak-anak tersebut memiliki cara unik dalam memaknai kehilangan, misalnya menganggap barang yang hilang sebagai bagian penting dari identitas diri atau status sosial, yang dipengaruhi lingkungan dan budaya belanja daring.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!