Dosen Akuntansi UB Dorong Transformasi Usaha Pengrajin Bambu di Malang
Kamis, 27 Nov 2025, 16:07 WIBMALANG - Sejumlah dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) melaksanakan program pengabdian masyarakat berjudul âBambupreneur: Transformasi Usaha Pengrajin Bambu Menuju UMKM Berdaya Saing melalui Pelatihan Produksi dan Keuanganâ yang menyasar Komunitas Pengrajin Bambu Mulya Jaya di Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.Â
Program ini dipimpin oleh Adri Putra Nugraha, dengan anggota Iqlimah Nadhivatuzuhro dan Rahmad Adriyanto yang berlangsung selama enam bulan dengan dukungan dana dari masyarakat.
Kegiatan ini berfokus pada dua tantangan utama yang selama bertahun-tahun dihadapi para pengrajin, yaitu keterbatasan alat produksi dan belum adanya sistem pengelolaan keuangan usaha yang memadai.
Kedua persoalan ini terbukti menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas, rendahnya konsistensi kualitas produk, serta lemahnya daya saing UMKM berbasis kerajinan bambu di pasar lokal maupun nasional.
Sosialisasi Pada Pengrajin Bambu
âSebagian besar pengrajin memiliki keterampilan tradisional yang kuat, tetapi belum ditunjang dengan alat modern dan pengetahuan manajerial yang cukup. Program ini berusaha menjembatani kesenjangan tersebut agar komunitas bisa naik kelas dan lebih berdaya saing,â kata Dr. Adri Putra Nugraha dalam pembukaan kegiatan.
Pada tahap awal, tim pengabdi melakukan pemetaan kebutuhan teknis komunitas. Hasil observasi menunjukkan bahwa proses pemotongan bambu masih dilakukan secara manual yang tidak hanya memakan waktu namun juga menimbulkan risiko kecelakaan dan ketidakseragaman ukuran produk. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas akhir produk dan kapasitas produksi harian para pengrajin.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian menyediakan alat pemotong bambu modern yang lebih efisien, aman, dan mampu menghasilkan ukuran potongan yang lebih presisi. Penyediaan alat ini dilanjutkan dengan pelatihan teknik pemotongan standar termasuk teknik keselamatan kerja dan standar kualitas produksi. Para pengrajin menyambut baik pelatihan ini.
âSelama ini kami memotong bambu memakai parang dan gergaji manual. Setelah diajari alat baru ini, pekerjaan jadi lebih cepat dan hasil potongannya rapi. Risiko terluka juga jauh lebih kecil,â kata salah satu pengrajin Siswanto.
Implementasi teknologi tepat guna ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi tingkat kegagalan produk, serta menciptakan standar kualitas yang lebih seragam untuk memperluas pasar. Selain pelatihan teknis produksi, tim pengabdian juga melaksanakan pelatihan akuntansi usaha sederhana meliputi pencatatan transaksi, penyusunan laporan laba-rugi, penentuan harga pokok produksi (HPP), hingga analisis arus kas. Pelatihan dilakukan menggunakan metode learning by doing berdasarkan aktivitas usaha nyata para pengrajin.
Metode ini dinilai sangat efektif karena peserta dapat langsung mempraktikkan cara mencatat biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, serta perhitungan harga jual yang ideal. Sebelum pelatihan, sebagian besar pengrajin menentukan harga secara perkiraan tanpa menghitung biaya secara menyeluruh, sehingga rentan mengalami kerugian.
âSebelumnya kami tidak pernah mencatat pemasukan atau pengeluaran secara rutin. Setelah ikut pelatihan ini, kami baru sadar bahwa beberapa produk yang kami jual ternyata harganya terlalu rendah,â ungkap Susilowati, salah satu anggota Komunitas Mulya Jaya.
Dengan adanya sistem pencatatan yang lebih tertib, para pengrajin kini memiliki kemampuan untuk memantau kondisi keuangan usaha, menentukan harga secara lebih tepat, serta merencanakan perkembangan usaha di masa depan. Program Bambupreneur menerapkan Empowerment-Based Learning, yaitu pendekatan pemberdayaan yang menempatkan komunitas sebagai pusat proses pembelajaran. Dalam setiap sesi, peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif melakukan, mendiskusikan, dan mengevaluasi praktik produksi maupun pencatatan keuangan mereka sendiri.
âKami ingin para pengrajin bukan hanya tahu, tapi terbiasa. Transformasi hanya bisa terjadi melalui pembiasaan, bukan hanya pelatihan satu kali,â jelas Dr. Adri Putra Nugraha
Pendekatan ini terbukti efektif membangun kebiasaan baru yang lebih efisien dan profesional dalam mengelola usaha mereka sehari-hari.
Keterlibatan mahasiswa sebagai pendamping juga memperkuat proses pembelajaran dan membantu komunitas mengatasi kendala teknis maupun administratif
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pemprov Sulsel Respon Keluhan Warga, Jalan Makassar–Maros Segera Mulus
-
Blokade Berakhir, Aliran Minyak Dunia Melalui Selat Hormuz Kembali Normal
-
Menyaksikan Keindahan Kota Wamena dari Ketinggian Tugu Salib
-
Australia Impor 250.000 ton Pupuk dari Indonesia
-
Dedieselisasi Harus Diperluas dengan Setop Pembangkit Listrik Gas dan Batu Bara
-
Mendagri Apresiasi Kementerian PKP Pada Program Bedah 21 Ribu Rumah Tidak Layak Huni di Papua
-
Internet Gratis untuk Warga, Tanjungpinang Perkuat Layanan Digital
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.