Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengajaran yang Lembut Menghadirkan Rasa Aman pada Anak

📅 Selasa, 25 Nov 2025, 16:12 WIB | Oleh:
Pengajaran yang Lembut Menghadirkan Rasa Aman pada Anak Doc: ANTARA/Prisca Triferna
Ket. Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengajar para siswa di SDN Banyuagung 1 Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (21/11).

Jakarta -- Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi., Psikolog menyampaikan bahwa penerapan pengajaran yang lembut akan menghadirkan rasa aman pada anak-anak di sekolah.

"Menurut saya gentle teaching bukan hanya relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan," katanya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Selasa.

Dia mengatakan bahwa anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman dan relasi yang hangat dengan para guru.

Kehadiran ruang yang aman dan relasi yang baik dengan guru dinilai berperan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar.

"Rasa aman adalah kebutuhan psikologis dasar, siswa hanya bisa belajar dengan optimal ketika tubuh dan pikirannya berada dalam kondisi tenang," kata Devi. 

Tanpa rasa aman, ia mengatakan, anak akan kesulitan memahami materi pelajaran secara optimal, mengelola emosi, dan membangun relasi di sekolah.

"Jika anak merasa takut, dipermalukan, atau tidak diterima, maka otak akan bekerja dalam mode bertahan, bukan belajar," kata pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) wilayah Aceh itu.

Devi mengemukakan bahwa penerapan pengajaran yang lembut di sekolah akan berdampak baik pada perkembangan anak, membuat anak menjadi lebih terbuka dan percaya diri.

Penerapan cara pengajaran yang demikian juga dinilai dapat meminimalkan kemungkinan terjadi konflik, meningkatkan kenyamanan dalam proses belajar mengajar, dan membuat guru merasa lebih tenang.

Dalam menerapkan metode pengajaran yang lembut, guru disarankan menghadirkan diri secara utuh, bersikap tenang, dan berbicara secara lembut di kelas.

Selain itu, guru dianjurkan untuk mendengarkan siswa tanpa menghakimi serta menghindari penindakan yang bisa merendahkan dan menggerus kepercayaan diri ketika siswa bersalah.

"Lihatlah perilaku sebagai pesan, bukan ancaman. Intinya bukan memanjakan, tetapi menciptakan ruang aman tempat anak merasa dihargai," kata Devi.

Meski manfaatnya banyak, Devi mengatakan, penerapan model pengajaran yang demikian ada tantangannya.

Tantangan dalam penerapan model pengajaran ini antara lain perbedaan kemampuan dan kompetensi guru, banyaknya jumlah siswa per kelas yang menyulitkan guru memberikan perhatian personal kepada semua siswa, dan tekanan administratif yang membatasi waktu guru membangun relasi dengan siswa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.