Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petaka Baru Hantam Bangladesh: Demam Berdarah Jadi Lebih Mematikan

📅 Senin, 24 Nov 2025, 19:32 WIB | Oleh:
Petaka Baru Hantam Bangladesh: Demam Berdarah Jadi Lebih Mematikan Doc: SCMP

DHAKA - Seorang ahli entomologi menilai perubahan iklim memicu lonjakan kasus demam berdarah di Bangladesh.

Bangladesh melaporkan delapan kematian akibat wabah demam berdarah pada Minggu, sehingga total kematian di November menjadi 86, angka bulanan tertinggi tahun ini.

Kematian terbaru itu menjadikan jumlah kematian di tahun 2025 menjadi 364, dengan total kasus meningkat menjadi lebih dari 90.264 dengan 778 pasien rawat inap baru. Dari jumlah tersebut, 87.442 pasien telah kembali ke rumah setelah pulih, menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DGHS).

Infeksi dan kematian kini terlihat menyebar di seluruh negeri, termasuk kota Chattogram di tenggara, kota Barisal di selatan-tengah, kota Mymensingh di utara-tengah, serta ibu kota Dhaka.

Profesor dan ahli entomologi Kabirul Bashar dari Universitas Jahangirnagar mengatakan kepada Anadolu bahwa peningkatan jumlah infeksi disebabkan oleh perubahan iklim, manajemen nyamuk yang buruk, dan urbanisasi yang tidak terencana.

Biasanya, musim dingin Bangladesh terjadi pada Desember–Februari, dengan suhu mulai turun pada November dan curah hujan menurun signifikan pada akhir September, menandai berakhirnya musim hujan. Namun tahun ini, hujan deras masih berlangsung hingga akhir Oktober, menurut data Departemen Meteorologi Bangladesh.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, November menjadi bulan yang sangat mematikan. (Peningkatan kasus demam berdarah) ini disebabkan oleh durasi hujan. Curah hujan yang berkepanjangan dan tertunda, bahkan hujan di akhir Oktober tahun ini, telah menyebabkan peningkatan jumlah infeksi dan kematian,” kata Bashar.

Curah hujan yang tertunda memengaruhi manifestasi demam berdarah. Cuaca dan suhu di negara ini juga tetap mendukung penyebaran dan kelangsungan hidup demam berdarah, tambahnya.

“Situasi demam berdarah tahun ini tidak akan mengalami perbaikan besar atau pemulihan secara signifikan. Penurunan kasus baru yang berarti kemungkinan baru terlihat mulai Januari tahun depan,” tambahnya.

Nyamuk pembawa demam berdarah berkembang biak pada suhu antara 20-30 derajat Celsius (68-86°F). Negara ini mengalami suhu rata-rata yang serupa sepanjang tahun.

Bahkan di musim dingin, suhu tetap mendekati 20 derajat Celsius, yang merupakan kondisi yang menguntungkan bagi demam berdarah, menurut Bashar.

Pada 2023, Bangladesh melaporkan rekor 1.705 kematian akibat demam berdarah dari 321.179 kasus terkonfirmasi, menurut DGHS, menjadikannya wabah paling mematikan di negara itu. Ant/Anadolu

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Teknologi Makin Canggih, Kenapa Hilirisasi Indonesia Masih Tersendat?
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai kendala hilirisasi; dari ...
  • Ambisi Semikonduktor Nasional Terhalang Ekosistem Industri
    Preview komentar:
    Tantangan mendasar yang dipaparkan secara tajam dalam artikel ...
  • Pemprov Kaltara Dorong UMKM Dilibatkan dan Masuk Kawasan Industri
    Preview komentar:
    Langkah strategis Pemprov Kaltara memfasilitasi UMKM lokal untuk ...
Daerah
Memperkuat Upaya Mitigasi P...
Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

19 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.