Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sekrup Archimedes, Teknologi Kuno yang Tetap Digunakan hingga Kini

📅 Rabu, 09 Sep 2026, 07:13 WIB | Oleh:
Sekrup Archimedes, Teknologi Kuno yang Tetap Digunakan hingga Kini Doc: AFP/ANDREAS SOLARO/Domain Publik
Ket. Seorang pengunjung mencoba replika “sekrup hidrolik” karya ilmuwan Yunani Archimedes dalam pameran “Archimedes: seni dan sains sang penemu” di Museum Capitoline, Roma (kiri). Potret Lukisan Archimedes karya pelukis Barok Italia Domenico Fetti.

JAUH sebelum manusia mengenal pompa listrik, mesin hidrolik, dan sistem pengolahan air otomatis, persoalan memindahkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi sudah menjadi tantangan penting bagi peradaban kuno.

Pada zaman itu pertanian membutuhkan air dalam jumlah besar. Kota-kota yang berkembang membutuhkan sistem pengelolaan air. Tambang membutuhkan cara untuk mengeluarkan air dari lubang yang semakin dalam.

Untuk menjawab persoalan tersebut, manusia menciptakan berbagai perangkat mekanis. Salah satu yang paling menarik adalah sekrup Archimedes atau Archimedean screw, yang bahkan masih digunakan sampai hari ini.

Bentuknya relatif sederhana. Sebuah bilah berbentuk spiral mengelilingi poros yang dipasang miring. Ketika poros diputar, air atau material yang berada di antara lilitan spiral terdorong secara bertahap menuju tempat yang lebih tinggi.

Meskipun konsepnya telah dikenal sejak zaman kuno, prinsip tersebut tidak berhenti menjadi artefak sejarah. Hingga sekarang, mekanisme sekrup Archimedes masih digunakan dalam berbagai bidang, termasuk irigasi, pengelolaan air limbah, pemindahan material, dan pembangkit listrik tenaga air skala kecil.

Perjalanan teknologi ini menjadi contoh bagaimana sebuah gagasan mekanis yang sederhana dapat bertahan selama ribuan tahun karena mampu menjawab persoalan yang tetap relevan bagi manusia sampai sekarang.

Teknologi dari Zaman Archimedes

Sekrup Archimedes secara tradisional dikaitkan dengan Archimedes, ilmuwan dan matematikawan Yunani yang hidup sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Archimedes dikenal karena kontribusinya terhadap matematika, fisika, hidrostatika, dan mekanika. Namanya kemudian diabadikan dalam berbagai prinsip ilmiah, termasuk prinsip Archimedes mengenai gaya apung.

Namun, sejarah sekrup Archimedes tidak sepenuhnya jelas. Perangkat pengangkat air dengan mekanisme spiral kemungkinan memiliki sejarah yang lebih panjang daripada kehidupan Archimedes. Karena catatan sejarah dari dunia kuno sangat terbatas, sulit memastikan dengan mutlak siapa orang pertama yang menciptakan mekanisme tersebut.

Salah satu kisah yang paling terkenal menyebutkan bahwa Archimedes mengembangkan perangkat tersebut ketika berada di Mesir. Teknologi itu kemudian digunakan untuk membantu mengangkat air, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan irigasi.

Mesir merupakan tempat yang sangat masuk akal untuk perkembangan teknologi semacam itu. Kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Nil sangat bergantung pada pengelolaan air. Air sungai harus dialirkan ke lahan pertanian, sementara perubahan ketinggian permukaan tanah membuat sistem pengangkatan air menjadi penting.

Di Mesir mekanisme spiral menawarkan solusi yang relatif sederhana. Alih-alih mengangkat air dalam satu wadah secara berulang-ulang, sekrup memungkinkan air bergerak terus-menerus selama poros diputar.

Prinsip Sederhana

Cara kerja sekrup Archimedes sebenarnya dapat dipahami dengan mudah. Bayangkan sebuah bidang spiral yang mengelilingi poros seperti ulir pada sekrup berukuran sangat besar. Poros tersebut ditempatkan miring dengan bagian bawah berada di dalam air.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.