Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Industri Aluminium Makin Strategis, Kapasitas Nasional Terus Menguat dan Hilirisasi Dipercepat

📅 Sabtu, 15 Nov 2025, 13:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Industri Aluminium Makin Strategis, Kapasitas Nasional Terus Menguat dan Hilirisasi Dipercepat Doc: istimewa
Ket. Industri aluminium nasional menunjukkan penguatan signifikan seiring meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri, neraca perdagangan yang terus mencatat surplus besar, serta tumbuhnya investasi pada proyek refinery baru

JAKARTA-Industri aluminium nasional menunjukkan penguatan signifikan seiring meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri, neraca perdagangan yang terus mencatat surplus besar, serta tumbuhnya investasi pada proyek refinery baru. Hal ini menegaskan peran strategis aluminium sebagai salah satu tulang punggung pembangunan industri Indonesia, khususnya untuk sektor kemasan, konstruksi, otomotif, dan energi terbarukan.

Direktur Industri Logam, Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (Ilmate) Kemenperin, Dodiet Prasetyo menyampaikan bahwa outlook industri aluminium pada 2026 mengindikasikan tren yang semakin positif. Indonesia bergerak menjadi produsen alumina dan aluminium yang semakin kuat. Peningkatan kapasitas aluminium primer serta bertambahnya fasilitas refinery menunjukkan bahwa ketahanan pasokan dalam negeri makin kokoh, ujar Dodiet di Jakarta Jumat (14/11).

Data Kemenperin menunjukkan bahwa hingga JanuariAgustus 2025, ekspor alumina mencapai 3,66 juta ton, mendekati pencapaian tahun sebelumnya, sementara impor turun menjadi 816 ribu ton. Penurunan impor ini mencerminkan mulai berperannya PT Borneo Alumina Indonesia sebagai sumber bahan baku alumina PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Surplus neraca perdagangan alumina ini merupakan bukti keberhasilan kebijakan hilirisasi mineral. Kapasitas dalam negeri tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global, jelas Dodiet.

Meskipun demikian, ia menekankan bahwa ekspor masih didominasi oleh bahan antara. Untuk meningkatkan nilai tambah, kita perlu mempercepat investasi pada fasilitas pengolahan lanjutan sehingga lebih banyak produk aluminium bernilai tinggi dapat diproduksi di dalam negeri, ungkapnya.

Peningkatan kapasitas produksi nasional juga terlihat dari kinerja smelter aluminium dan refinery alumina. Hingga pertengahan 2025, total output refinery mencapai 2,01 juta ton alumina, sementara smelter aluminium menghasilkan 352 ribu ton aluminium primer, dengan utilisasi mendekati 91% untuk smelter aluminium dan 64% untuk refinery alumina.

Dengan adanya rencana perluasan PT Inalum, optimalisasi produksi PT Hua Chin Aluminum Indonesia, dan beroperasinya PT Kalimantan Aluminium Industry, pasokan aluminium primer kita diperkirakan dapat menembus lebih dari 1 juta ton pada 2027, terang Dodiet.

Menurutnya, kondisi ini akan memperkuat pasokan bahan baku industri hilir seperti kabel listrik, aluminium plate/sheet/foil, pengecoran logam aluminium, hingga industri aluminium ekstrusi yang membutuhkan bahan setidaknya 1 juta ton aluminium per tahun.

Perkiraan global dari lembaga internasional menunjukkan bahwa harga aluminium pada 2026 relatif stabil, berada di kisaran USD 2.2002.625 per ton, ditopang meningkatnya permintaan dari sektor kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, dan otomotif global. Stabilitas harga ini memberikan ruang bagi industri nasional untuk memperluas kapasitas dan investasi hilirisasi.

Harga yang kompetitif dan pasokan domestik yang semakin kuat merupakan kombinasi ideal untuk mempercepat pertumbuhan industri hilir Indonesia. "Ini momentum besar bagi pengembangan produk turunan seperti panel surya, komponen otomotif, hingga berbagai aplikasi industri maju,"ujar Dodiet.

Kebjakan masa depan

Dodiet menambahkan, Kemenperin terus memperkuat langkah strategis untuk mengakselerasi hilirisasi industri aluminium nasional. "Upaya ini dilakukan melalui penguatan kebijakan energi, optimalisasi bahan baku dalam negeri, serta peningkatan kapasitas daur ulang guna menciptakan ekosistem industri aluminium yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,"ungkapnya.

Dodiet juga menjelaskan bahwa hilirisasi aluminium memiliki peran penting dalam memperbesar nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat struktur industri nasional. "Industri aluminium merupakan salah satu sektor strategis karena keterkaitannya yang luas dengan industri otomotif, konstruksi, kemasan, hingga elektronik. Oleh sebab itu, peningkatan daya saing dan keberlanjutannya perlu terus dipercepat," ujarnya.

Untuk menekan biaya energi yang menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam proses produksi aluminium, Kemenperin mengusulkan agar industri aluminium dapat menjadi penerima manfaat kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). "Pemanfaatan HGBT akan membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi sehingga produk aluminium nasional mampu diserap oleh industri hilirnya serta mampu bersaing lebih kuat di pasar global," jelas Dodiet.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.