BMKG: Tarakan, Kalimantan Utara, Paling Sering Alami Gempa Sejak Awal Abad ke-20
📅 Jumat, 07 Nov 2025, 13:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), merupakan wilayah dengan aktivitas gempa paling tinggi di Pulau Kalimantan, berdasarkan catatan kegempaan sejak awal abad ke-20.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, mengatakan data sejarah menunjukkan Tarakan telah berulang kali diguncang gempa dengan kekuatan signifikan, meski secara umum Kalimantan tergolong wilayah dengan tingkat kegempaan rendah dibandingkan kawasan lain di Indonesia.
“Kalimantan bukan wilayah bebas gempa dan potensi gempa merusak tetap ada, meskipun aktivitas seismiknya lebih rendah dibanding kawasan lain di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, atau Sulawesi. Dan dari hasil analisis data historis, Tarakan menjadi daerah paling aktif gempa di Kalimantan,” kata dia.
Berdasarkan Katalog Gempa BMKG, lanjut dia, Tarakan tercatat mengalami sejumlah gempa besar pada 1923, 1925, 1936, 2015, dan 2025, dengan magnitudo antara 4,8 hingga 7,0. Beberapa diantaranya menimbulkan kerusakan sedang hingga berat pada bangunan rumah, fasilitas umum, serta memicu rekahan tanah di wilayah pesisir.
Selain Tarakan, kata dia, sejumlah wilayah lain di Kalimantan juga pernah diguncang gempa signifikan, seperti Sangkulirang (Kalimantan Timur, 1921) yang disertai tsunami, Pulau Laut (Kalimantan Selatan, 2008), dan Banjar (Kalimantan Selatan, 2024) akibat aktivitas Sesar Meratus.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Gempa Tarakan 5 November 2025 dengan magnitudo hanya 4,8 magnitudo, namun menimbulkan kerusakan nyata, menunjukkan bahwa gempa dangkal dekat permukiman sangat berpotensi merusak," kata dia.
Daryono menjelaskan bahwa meskipun intensitas guncangan di Kalimantan relatif jarang, aktivitas sesar-sesar aktif seperti Sesar Tarakan, Sesar Maratua, dan Sesar Meratus kini menjadi fokus pemantauan BMKG.
BMKG juga tengah memperkuat jejaring pemantauan seismik di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur, sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan infrastruktur strategis dan mitigasi bencana di wilayah tersebut, termasuk di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Rangkaian gempa sejak 1923 hingga kini menjadi catatan penting untuk mitigasi. Kualitas bangunan masih menjadi faktor utama yang menentukan besarnya dampak. BMKG berpesan masyarakat perlu memastikan bangunan tahan guncangan sesuai standar bangunan tahan gempa. Edukasi publik menjadi kunci untuk membangun budaya sadar bencana,” kata Daryono.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!