Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bobibos, Bahan Bakar Merah Putih dari Jonggol Lebih Murah dan Ramah Lingkungan

📅 Selasa, 04 Nov 2025, 18:05 WIB | Oleh:
Bobibos, Bahan Bakar Merah Putih dari Jonggol Lebih Murah dan Ramah Lingkungan Doc: Instagram: @jakarta.terkini

JAKARTA - Di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, inovasi bahan bakar baru lahir dari Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Produk ini berupa bahan bakar cair organik berbasis tumbuhan yang menjadi alternatif ramah lingkungan untuk moda transportasi.

Bahan bakar ini diberi nama Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Buatan Indonesia BOS. Produk tersebut memiliki dua varian yang bisa digunakan untuk mesin bensin dan mesin diesel sebagai pengganti BBM fosil.

Varian merah dikhususkan untuk mesin diesel. Sementara varian putih digunakan untuk mesin bensin dalam aktivitas transportasi harian.

Sumber bahan baku Bobibos berasal dari limbah pertanian yang berlimpah. Bahan tersebut tidak membutuhkan penanaman paksa karena ketersediaannya sudah sangat banyak di berbagai daerah.

"Yang merah untuk mesin disel dan yang putih untuk mesin bensin, berasal dari limbah pertanian (Nabati) atau biofuel, yang mudah ditemukan dan tidak perlu dipaksa untuk ditanam karena jumlahnya sudah sangat melimpah tinggal diolah langsung jadi," ujar Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin, Minggu (2/11/2025).

Ikhlas menyebut bahwa produk ini dapat menekan biaya konsumsi BBM masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa Bobibos jauh lebih bersih dari BBM fosil dalam proses pembakarannya di mesin kendaraan.

Selain efisiensi pembakaran, Bobibos diklaim memiliki harga yang jauh lebih terjangkau untuk konsumen. Per liternya disebut hanya sepertiga dari harga BBM Pertamina kelas tinggi seperti RON 98.

Peluncuran Bobibos dilakukan langsung di Jonggol dan dihadiri oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Mulyadi. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi yang dihasilkan oleh anak bangsa tersebut.

Menurut Mulyadi, kebutuhan BBM Indonesia sangat besar dalam satu hari. Krisis kemandirian energi membuat impor BBM menjadi solusi yang tidak bisa dihindari.

Kebutuhan BBM nasional mencapai 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari dalam aktivitas transportasi dan industri. Namun, produksi dalam negeri baru menutupi sekitar 850 ribu barel per hari sehingga sisanya harus dipenuhi lewat impor.

Kondisi itu menyebabkan negara harus mengeluarkan biaya subsidi yang sangat besar setiap tahunnya. Beban anggaran energi pun terus membengkak dan mengurangi fokus pada program pembangunan manusia.

"Kalau subsidi energi bisa kita alihkan ke hal lain seperti pendidikan, kesehatan maka gaji guru dapat lebih layak dan kita lebih berdaulat karena dihasilkan dan diproduksi oleh anak bangsa," tambah Mulyadi, Minggu (2/11/2025).

Bobibos disebut dapat menjadi solusi menuju kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan kekayaan alam sendiri, Indonesia tidak lagi bergantung besar pada BBM impor.

Dalam peluncurannya, Bobibos langsung diuji coba pada kendaraan bermotor. Sebanyak empat sepeda motor, dua mobil bensin, dan satu mobil diesel menjadi unit percobaan awal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Liga Arab Pasang Badan Tola...
Daerah
Wonosobo Andalkan Dieng Cal...
Rona
Cermati Bahaya Tekanan Dara...

Ada yang Tahu Jumlah Cagar Budaya Secara Nasional?

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Ada yang Tahu Jumlah Cagar ...

Suara Rakyat Tetap Jadi Landasan Jakarta Membangun

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Suara Rakyat Tetap Jadi Lan...

50 Duta Besar Hadiri Jakarta Twilight Soiree  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
50 Duta Besar Hadiri Jakart...
Kasus Tukiyem, Dukcapil Kota Bengkulu sebut Proses KK Memenuhi Syarat

Kasus Tukiyem, Dukcapil Kota Bengkulu sebut Proses KK Memenuhi Syarat

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.