Indonesia Siap Swasembada Beras, Dua Bulan Lagi: Mentan Yakin Produksi Nasional Tembus Target!
📅 Rabu, 22 Okt 2025, 18:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Harianto
JAKARTA – Mencapai swasembada beras tetap menjadi salah satu prioritas strategis nasional karena pangan pokok ini menyangkut ketahanan dan kedaulatan negara.
Swasembada beras bukan sekadar soal produksi yang cukup, tapi juga memastikan distribusi merata, harga stabil, dan cadangan yang memadai untuk menghadapi gejolak cuaca atau fluktuasi pasar global.
Swasembada beras memberi efek domino positif: meningkatkan pendapatan petani, menstimulasi sektor agribisnis terkait, dan mengurangi ketergantungan impor yang bisa membebani APBN.
Namun, pencapaian swasembada beras ini membutuhkan perbaikan produktivitas melalui teknologi pertanian modern, regenerasi petani, manajemen air dan irigasi yang efisien, serta kebijakan harga yang adil.
Singkatnya, swasembada beras bukan hanya target kuantitatif, tapi fondasi stabilitas ekonomi dan sosial yang memungkinkan Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Pertanian (Mentan) yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia akan segera mencapai swasembada beras dalam waktu dua bulan ke depan.
Capaian itu, menurut Amran, sebagai hasil dari lonjakan produksi beras nasional yang signifikan selama satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Alhamdulillah kalau tidak ada aral melintang, satu bulan dua bulan ke depan kita mencapai swasembada dalam waktu sesingkat-singkatnya, secepat-cepatnya dengan produksi estimasi 34 juta ton,” ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Amran menjelaskan bahwa produksi beras Indonesia hingga Oktober 2025 telah mencapai 33,19 juta ton, naik dari 30 juta ton pada tahun sebelumnya. Berdasarkan estimasi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras diperkirakan menembus 34,3 juta ton pada akhir tahun.
“Naik 4 juta ton dalam satu tahun. Ini adalah lompatan tertinggi sepanjang sejarah,” ujar dia.
Selama satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo, sektor pertanian menyumbang 13,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Nilai Tukar Petani (NTP) juga mencatatkan rekor tertinggi, yakni 124,36 poin.
Kenaikan itu, menurut dia, dipicu oleh kebijakan pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dari Rp5.000 menjadi Rp6.500 per kilogram.
“Alhamdulillah petani menikmati harga itu,” kata Amran.
Serapan beras oleh Perum Bulog selama setahun juga mencatatkan rekor tertinggi, yakni sebesar 4,2 juta ton. Sementara itu, ekspor produk pertanian Indonesia naik 42,19 persen dibandingkan tahun 2024, katanya, menambahkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!